Senin, 09 Maret 2026

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sudut kampung, dan orang-orang berusaha memperbaiki diri dengan menahan lapar, haus, serta berbagai hawa nafsu. Namun di era digital hari ini, ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: menahan diri dari kebiasaan “scroll” tanpa henti di layar gawai.

Bagi banyak orang, terutama generasi muda, ponsel pintar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Saat menunggu waktu berbuka, tangan dengan refleks membuka media sosial. Setelah salat tarawih, waktu yang seharusnya bisa diisi dengan tadarus atau refleksi diri seringkali habis oleh deretan video pendek, komentar, dan notifikasi yang tidak ada habisnya. Tanpa sadar, kita mungkin telah berhasil menahan lapar dan dahaga, tetapi gagal menahan diri dari godaan dunia digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan berpuasa di zaman sekarang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga dengan disiplin digital. Media sosial memiliki algoritma yang dirancang untuk membuat penggunanya terus bertahan di layar. Satu video memancing video berikutnya, satu unggahan memancing rasa ingin tahu terhadap unggahan lain. Dalam hitungan menit, waktu berlalu begitu saja tanpa terasa.

Padahal Ramadan sejatinya adalah bulan latihan pengendalian diri. Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih kesabaran, menahan emosi, menjaga lisan, serta mengendalikan berbagai keinginan yang berlebihan. Jika makna puasa dipahami secara lebih luas, maka menahan diri dari penggunaan gawai yang berlebihan juga termasuk bagian dari latihan spiritual itu.

Di sisi lain, teknologi sebenarnya tidak selalu menjadi penghalang ibadah. Justru jika dimanfaatkan dengan bijak, dunia digital dapat menjadi sarana memperkaya pengalaman Ramadan. Saat ini banyak aplikasi Al-Qur’an digital, kajian daring, podcast keislaman, hingga gerakan sedekah online yang memudahkan umat untuk berbuat kebaikan. Banyak orang yang kini bisa mengikuti ceramah ulama dari berbagai daerah tanpa harus meninggalkan rumah.

Masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada cara kita menggunakannya. Ketika gawai hanya menjadi alat hiburan yang membuat kita lupa waktu, maka ia menjadi distraksi. Namun ketika ia dimanfaatkan untuk menambah ilmu dan memperkuat spiritualitas, teknologi justru bisa menjadi jembatan kebaikan.

Ramadan mungkin bisa menjadi momentum yang tepat untuk menata kembali hubungan kita dengan dunia digital. Sebagaimana kita membatasi waktu makan hanya pada saat sahur dan berbuka, kita juga bisa mencoba membatasi waktu penggunaan media sosial. Misalnya dengan membuat kebiasaan baru: setelah tarawih digunakan untuk membaca Al-Qur’an, sebelum sahur diisi dengan doa dan refleksi, atau saat menunggu berbuka digunakan untuk membaca buku.

Latihan kecil semacam ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki makna besar. Dengan mengurangi waktu scroll yang tidak perlu, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali merasakan kedalaman Ramadan. Keheningan, perenungan, dan kedekatan dengan Tuhan seringkali muncul justru ketika kita menjauh sejenak dari keramaian dunia—termasuk keramaian di layar digital.

Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus selama belasan jam. Ia adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan keseimbangan, kesadaran, dan pengendalian diri. Di era digital ini, mungkin salah satu bentuk puasa yang paling relevan adalah puasa dari kebiasaan yang membuat kita lalai.

Karena boleh jadi, yang paling sulit bukanlah menahan lapar dari fajar hingga senja, tetapi menahan jari agar tidak terus-menerus menggulir layar tanpa tujuan. Ramadan mengajak kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya pada diri sendiri: apakah waktu yang diberikan Tuhan telah kita gunakan untuk sesuatu yang bermakna?

Jika kita mampu menjadikan Ramadan sebagai momen untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi, maka puasa kita tidak hanya melatih tubuh, tetapi juga membebaskan pikiran dari ketergantungan yang tidak perlu. Dan di situlah mungkin letak kemenangan yang sesungguhnya: ketika kita tidak hanya berpuasa dari lapar, tetapi juga dari hal-hal yang membuat hati kita jauh dari makna kehidupan.

Selasa, 12 Agustus 2025

Mempelajari Islam dari Berbagai Aspek

 

Judul Buku    : Metodologi Studi Islam

Penulis            : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A.

Penerbit         : PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

TahunTerbit  : CetakanKe-21 Juni 2014

Jumlah           Halaman: 482 hlm

ISBN               : 979-421-706-9

Presensi         : Abd. Malik

Mempelajari Islam hal secara mendalam merupakan hal yang paling penting pada di zaman mutakhir ini, setelah kehadiran buku yang di tulis Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. yang mengungkapkan secara penjang lebar mengenai berbagai aspek pendekatan, hubungan serta karakteristik ajaran Islam hingga pada misi ajaran Islam. Dengan adanya agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Diyakini dapat menjamin terwudnya kehiduapan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu manyikapi hidup dan kehiduapan ini secara lebih bermakna.

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif didalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khatbah, melainkan secara konseptual menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah. Islam agama yang terakhir diantara sekalian agama besar di dunia yang semuanya merupakan kekuatan raksasa yang menggerakkan revolusi dunia, dan mengubah nasib sekalian bangsa, selain itu, Islam bukan saja agama yang terakhir melainkan agama yang melingkupi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang sebelumnya.

Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, secara operasional  konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.

            Dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan disekitar permasalahan apakah studi islam dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pembahasan di sekitar permasalahan ini  banyak dikemukakan oleh para pemikir islam belakangan ini. Amin Abdullah, misalnya mengatakan jika penyelenggaraan  dan penyampaian Islamic Studies atau Dirasah Islamiyahhanya mendengarkan dakwah keagamaan di dalam kelas, lalu apa bedanya dengan kegiatan pengajian dan dakwah yang sudah ramai diselenggarkan di luar bangku kuliah? Meresponi sinyalemen tersebut, menurut Amin Abdullah, pangkal tolak kesulitan pengembangan scopewilayah kajian Islamic Studiesatau Dirasah Islamiyah berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antar normartivitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatan Islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historitas tampaknya tidaklah salah.(hlm. 150)

Dengan demikian dengan banyaknya sekelumit pengkajian Islam, diharapkan akan membantu sumber daya manusia, tidak hanya perkembangan zaman yang menjadi pegangan setiap hari. Menurut penulis dari sekian 24 Bab ini mengungkapkan metode yang praktis yang dapat di pelajari siapa saja, baik dikalangan mahasiswa maupun bagi mereka yang masih duduk di bangku SMP, SMA/Sederajat.

Pada edisi ini lebih banyak pembahasan yang sudah ditambah oleh penulisnya, di edisi revisi ini selain memuat topik-topik kajian studi islam sebagaimana tersebut di atas, juga di tambah dengan tiga topik pembahasan yang baru, yaitu misi Ajaran Islam, posisi Islam di antara agama-agama di dunia, serta islamisasi ilmu pengetahuan yang masing-masing diletakkan pada Bab ke-7,8 dan 23.

            Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Argumentsi tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:pertama, untuk menunjukkan bahwa Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari pengertian Islam itu sendiri. Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan orang muslim ialah  orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai denagan Allah artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehedak-Nya, dan damai dengan manusia bukan saja berarti menyingkiri berbuat jahat dan sewenag-wenang kepada sesamanya, melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya,kedua, misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang dimainkan Islam dalam menangani berbagai problematika agama, sosial ekonomi, politik , hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. Dari sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam senantiasa hadir memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas. (hlm. 97-99)

Kenyataan bahwa Islam kini menampilkan realitas yang lebih ideal, menurut penulis dalam buku ini, disebabkan karena pemahaman atau kualitas keagamaan umat yang masih rendah atau keliru dalam mendalami Islam. Hal ini dilakukan pula karena pengajaran studi Islam yamg ada selam ini hanya diarahkan pada terciptanya para lulusan yang dapat menghafal ajaran agama, tetapa tidak mampu mengembangkannya. Buku ini selain akan memcoba membawa pembaca untuk memiliki wawasan yang utuh dan integral tentang Islam, juga dapat mengembangkannya. Untuk itu masalah metode dan pendekatan dalam seluruh aspek ajaran Islam dikemukakan dalam buku ini.

Untuk menjawab permasalahan di atas, buku Metodologi Studi Islam ini memberikan pengetahuan kepada kita (terutama mahasiswa dan peneliti yang sedang mendalami studi Islam) untuk memahami Islam dengan pendekatan yang komprehensif, melalui penerapan metode dan teknik studi Islam yang aplikatif.

Bagi yang ingin mendalami tentang agama Islam, secara mendasar, buku ini bisa dijadikan salah satu referensi utama dan mendasar. Pemaparan yang mendalam dan disertai dengan kutipan-kutipan ahli lain sangat mempermudah kita untuk mempelajari pendekatan dan sejarah lebih lanjut. Hal ini merupakan kelebihan buku ini yang mungkin tidak akan ditemukan pada buku-buku lainnya. Cara pembahasan yang gamblang dan penyajian yang menarik, menjadikan buku ini sangat asik dan menyenangkan untuk dibaca.(*)

Memahami Kehadiran Media Baru di Era Global

 

Judul`             : Politik Sirkulasi Budaya Pop

Penulis           : Wahyudi Akmaliah
Penerbit         : Buku Mojok
Terbitan         : Pertama, April 2019
Tebal              : 193 halaman
ISBN               : 978-602-1318-94-2

Presensi         : Abd. Malik*

 

            Kehadiran internet di Indonesia membawa perubahan tersendiri di era kekinian. Perubahan ini sedikit menggeser media kita dengan menghasilkan media baru yang pada awalnya mereproduksi media lama seperti televisi, radio dan media cetak (koran dan majalah). Dalam media baru, sirkulasi memegang peranan kunci bagaimana proses informasi itu bekerja dan sampai ke tangan masyarakat.

Pada akhirnya, kehadiran internet khususnya media sosial, tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi melainkan juga membentuk berbagai pola baru aktivitas keseharian masyarakat. Dengan begitu, masyarakat Indonesia dalam hal politik tidak bisa dilepaskan dari penggunaan media sosial, baik sebagai kampanye politik, pertarungan gagasan, pelintiran hoaxs, ataupun sebagai bagian dari gerakan sosial.

Buku ini berusaha menggambarkan proses perubahan tersebut dengan melihat perkembangan budaya populer, kondisi politik, serta komodifikasi agama yang terjadi di Indonesia. Terlihat jelas yang digambarkan dalam salah satu jenis judul tulisannya, “Menghitung Kekuatan Via Vallen-Nella Kharisma di Pilkada.” Di sini diungkap keterlibatan Nella Karisma dan Via Vallen dalam pemenangan tim kampanye Gus Ipul dalam Pilkada di Jawa Timur pada tahun 2018 (hal. 13) Melalui produk-produk budaya pop ini setiap calon akan menunjukkan  dan merepresentasikan diri mereka berpihak kepada siapa melalui video yang diunggah di  pelbagai media.

Di samping itu, buku ini menjelaskan gelombang islamisasi dan komodifikasi agama yang menjadi ancaman serius bagi kawula muda. Karena situs yang terindikasi menyebarkan hoaxs dan kebencian mengenai pelintiran agama menempati urutan teratas dibanding situs resmi yang dimiliki ormas terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Karenanya di tengah seseorang keranjingan gadget ada hal pokok yang perlu diwaspadai, utamanya menyangkut radikalisme, internet memiliki faktor yang signifikan dalam pembentukan elemen radikalisme, dan bahkan jejaring radikalisme kepada anak-anak muda.

Diperkuat melalui pemaparan hasil survei data statistik pengguna internet Indonesia oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada 2016 mengemukakan bahwa dari total pengguna internet di Indonesia dengan jumlah 132 juta orang, setengahnya diakses oleh anak muda (usia 17-34 tahun), dengan jumlah 56,7 juta orang (4,2%). Jumlah ini tentu sangat  banyak dan relatif rentan terpapar ideologi radikalisme dan terorisme. Kekhawatiran menguat BNPT menyebutkan bahwa 52% yang menjadi napi terorisme dalm LP tersebut adalah anak-anak muda. (hal. 152)

Itulah sedikit situasi politik dan kondisi agama yang terjadi, dan digambarkan dalam buku ini. Buku demikian dapat memenuhi keinginan kita yang ingin mengetahui peta politik Indonesia saat sekarang. Yang mana terbagi tiga tema besar yang ditulis Wahyudi Akmaliah ini, pertama, meliputi budaya pop dalam pusaran kekuasaan. Kedua, media baru dan pergeseran otoritas. Ketiga, gelombang islamisasi dan komodifikasi agama.

Ketiga tema besar ini menghasilkan empat puluh jenis judul, dan dihadirkan dengan bahasa yang mudah kita dipahami. Namun, meski begitu buku ini tergolong berhasil dalam mengungkap politik sirkulasi dan budaya pop di era industri 4.0. Seperti dalam buku ini juga dijelaskan mengapa Jokowi memilih KH. Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden di tahun 2019 kemarin. Padahal, sejumlah lembaga survei pun mengunggulkan Mahfud MD yang dapat mewakili semangat reformasi. Pertanyaan ini terjawab melalui satu karya tulis Wahyudi.

Buku ini baik dibaca dan dimilki siapa saja bagi yang ingin mengetahui lebih banyak lagi perkembangan politik kekinian dan media baru di era global. Selain ditulis dengan bahasa yang renyah, juga berdasarkan data-data akurat, serta penulis memaparkan isu-isu aktual yang masih membingungkan masyarakat. Maka dari itu, cukup penting untuk semua orang yang ingin belajar memahami budaya baru dan media baru yang terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam.

Selamat membaca!

 

 

*Penulis adalah Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep.

Belajar Bijak Mengarungi Hidup dari Tasawuf Jawa

 Judul              : Tasawuf Jawa

Penulis          : Dr. Hj. Sri Harini, M.Ag

Penerbit         : Araska Pulisher

Cetakan         : 1 Juli 2019

Tebal              : 284 Halaman

ISBN              : 978-623-7145-45-5

Pandangan seseorang tentang tasawuf sempat mengalami simpang siur di kalangan Islam sendiri. Kalau kelompok Islam puritan dan formalistik memandang tasawuf sebagai gerakan bid’ah dan syirik karena cendrung memuju mistik. Sementara kelompok lain, memandang tasawuf sebagai bagian integral dalam Islam yang nilai-nilai esensinya sudah ada sejak zaman Nabi dan sahabat.

Simpang siur ini karena adanya pengertian tasawuf yang banyak disalah pahami oleh sebagian besar masyarakat. Dianggapnya tasawuf dapat menjauhkan manusia dari lingkungan sekitarnya. Padahal tasawuf tidak bisa diartikan sesempit itu, tasawuf adalah ilmu untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) kita yang kotor. Jika hatinya bersih dan jiwanya suci, maka perilakunya akan baik.

Dalam disiplin ilmu agama Islam, ada tiga unsur disiplin. Pertama, Tauhid persoalan ketuhanan. Kedua, fikih atau syariat sebagai ilmu lahir, maka yang ketiga tasawuf merupakan ilmu yang berorientasi pada ranah batin. Tujuan utama adalah membersihkan hati dari berbagai kotoran-kotoran rohani seperti sombong, tidak jujur, suka berbohong, suka memfitnah, suka marah, suka bikin hoax, hasud, dengki, dan sebagainya.

            Untuk itu, diantara ajaran penting dari tasawuf jawa adalah sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo gusti. Secara literal ajaran ini bermakna: asal muasal kehidupan, bersatunya manusia (ciptaan) dengan Tuhan. Ajaran ini, dalam tasawuf Jawa yang disebut dengan ilmu kesempurnaan atau ilmu kesejatian. (hal. 90)

Sifat tasawuf yang menekankan pada olah rasa manusia ini membuatnya dapat bertemu dan bersatu dengan tradisi lain, termasuk  dengan tradisi Jawa. Di mana peradaban Jawa juga bertumpu pada alam batin. Sehingga tidak heran karya-karya yang lahir dari tangan para ulama Jawa bernuansa ajaran tasawuf. Dan ajarannya tetap menjadi patokan hidup orang-orang Jawa  dalam menjalani hiruk pikuk keidupan.

Tasawuf Jawa ini menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan, salah satunya dengan Tuhan, manusia dan alam. Orang Jawa yang ideal adalah mereka yang melakukan kewajibannya terlebih dahulu daripada menuntut hak. Kerukunan bagi orang Jawa menduduki posisi penting bahkan cenderung mengedepankan kerukunan sosial daripada kerukunan pribadi.

Salah satu ajaran tasawuf Jawa seperti ditemukan dalam Kitab Saloka Jiwa, Ranggawarsita menjelaskan soal asal mula penciptaan: “Buka kawruh kasampurnaan/wulanging guru ing nguni/iya in satuhunira/sadurunge ana sami/awing nguwung nur rakyat/amolya ana nganasir/gya tumangkar bumu geni angina toyal/,” yang artinya itu: “Membuka ilmu hakikat, pelajaran para guru masa lalu, bahwa sebelum adanya alam kosong ini, yang ada hanyalah Tuhan, yang Mahaluhur, menyinarkan Nur Muhammad  yang kemudian memancarkan empat anasir yakni bumi, api, angin, dan air.” (hal. 127)

Selain dari itu, Sri Harini sebagai penulis buku ini mengupas tasawuf Jawa dari sisi historis maupun isinya. Dalam tasawuf inilah kita disuguhkan samudra hikmah dan nilai-nilai moral yang begitu luas, sebagai kombinasi dari khazanah tasawuf  dan tradisi Jawa.

Hasil penelitian Niels Mulder, konsep etika Jawa pada prinsipnya lebih diletakkan di atas ukuran pantas dan tidak pantas. Obyek etika Jawa di antaranya terdapat dalam pernyataan-pernyataan yang mengandung nilai-nilai moral. Hildred Geertz mengemukakan dua kaidah dasar yang paling menentukan sistem pergaulan manusia Jawa yaitu, pertama bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap bijak bestari agar tidak sampai menimbulkan konflik, dan kedua menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. (hlm. 170)

Membaca buku ini membawa ingatan kita pada sejarah perjuangan Wali Songo disaat menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Salah metode yang dipakai untuk mengajak masyarakat agar mau masuk Islam adalah melalui pendekatan budaya yang bernafaskan tasawuf. Akhirnya, melalui dakwahnya yang humanis mampu menghipnotis masyarakat luas dan sampai saat ini perjungan leluhur itu mulai terasa. Jumlah umat Islam tergolong mayoritas di Indonesia. Nilai-nilai kesalehan spiritual masih tetap dijaga secara baik, hidup rukun bersama agama yang lain.  

Selamat membaca!

Bershalawat Sebagai Wujud Mahabbah Kepada Kanjeng Nabi

 Judul              : Shollu’alan Nabi   

Penulis          : Umi Azizah Khalil

Penerbit         : Araska Pulisher

Cetakan         : 1, Januari, 2020

Tebal              : 232 Halaman

ISBN              : 978-623-7537-36-6

           

            Dari sejak dahulu kebiasaan membaca shalawat cukup mengakar kuat di bumi Nusantara ini. Apalagi bagi kelompok masyarakat tertentu, shalawat begitu akrab dibaca setiap minggunya sebagai bentuk ekspresi hormat dan cintanya kepada Rasulullah Saw. Shalawat di sini mempunyai banyak macam, salah satu shalawat yang sering dibaca pada saat pekumpulan masyarakat adalah shalawat al-barzanji, dan burdah.

Sebagian besar dari mereka sudah tidak peduli meski beberapa aliran dalam Islam, khususnya kelompok Wahabi, mengharamkan dan membidahkan, namun tradisi bershalawat ini tetap terus menggema dan tidak pernah surut. Tradisi ini justru semakin berkembang bahkan dikreasikan dalam bentuk seni dan budaya di tengah masyarakat.

Terutama saat bulan Rabi’ul Awal misalkan, umat Islam memperingatinya dengan beragam ekspresi penghormatan dan kebahagiaan. Di Madura, salah satu acara yang sering dilaksanakan masyarakat di bulan maulid yaitu pembacaan shalawat Diba’ atau Barzanji oleh sekumpulan orang secara bersama-sama serta bersambut-sambutan, biasanya diiringi pukulan rebana dan beberapa alat musik setempat.

Buku yang berjudul “Shollu’alan Nabi” ini berusaha memotret ritual keagaman umat muslim dalam hal membaca shalawat. Selain dijelaskan membacanya bernilai ibadah, membaca shalawat sebagai wujud cinta (mahabbah) kita kepada Nabi Muhammad Saw. Di samping itu, akan jadi perantara datangnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada para pembacanya. Bershalawat dengan demikian juga merupakan wasilah kita untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt.

            Ada beragam kisah tentang seseorang yang sukses karena mengamalkan shalawat. Kisah itu bisa ditemukan dalam buku ini, salah satu kisah yang dikutip dalam buku ini adalah kisah seorang nenek tua penjual bunga cempaka yang rajin bersholawat. Nenek tersebut berasal dari salah satu kota di pulau Madura. Setelah berjualan di pasar, ia pergi ke masjid untuk shalat dan usai melaksanakan shalat ia memungut dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Sambil memungut dedaunan di halaman masjid, ia bacakan shalawat. Nenek tua tersebut memang mengakui bahwa dirinya adalah orang bodoh dan tidak akan mungkin mendapatkan syafaat di akhirat kelak tanpa pertolongan syafaat dari nabi Muhammad SAW. “Kelak jika saya mati, saya ingin kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya”. (hal. 141)

Dalam hal shalawat ini, bukan cuma manusia saja yang bershalawat. Allah dan malaikat pun juga bershalawat. Kalau Allah saja bershalawat kepada Nabi; malaikat saja bershalawat, maka sungguh “sombongnya” kita sebagai manusia jika tidak mau bershalawat kepada baginda Rasul. Allah bershalawat kepada Nabi Saw. itu menunjukkan Allah sangat mencintai dan menyayangi manusia mulia sekaligus sebagai Nabi dan Rasul terakhir itu.

Oleh karenanya, di tengah kegersangan spiritual manusia melewati arus modernisme ini. Kita serasa perlu meluangkan waktu sejenak untuk bershalawat kepada baginda Nabi Saw. Sebab, hanya pada diri beliaulah terdapat suri teladan yang baik bagi semua manusia di muka bumi.

Selain itu, buku yang ditulis Umi Azizah Khalil ini, memberikan langkah pencerah agar senantiasa menjadi pribadi yang saleh sosial, mudah bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. Dan mengingatkan, bahwa segala perbuatan baik tidak akan berharga di hadapan Tuhan, apabila kita tidak mendapatkan ridha dari-Nya dan syafaat kanjeng Nabi Muhammad Saw.

            Buku ini cukup enak dibaca bagi siapa saja, dan perlu dipelajari bagi mereka yang ingin memantapkan pengalaman spiritulnya. Karena di dalamnya menjelaskan secara lugas tentang shalawat, baik mengenai makna sholawat, manfaat dan fadilah membaca shalawat, macam-macam teks shalawat, dan juga kisah-kisah menarik para pengamal shalawat. Selamat membaca!

Belajar Hidup Menghargai dari Perempuan Mesir

Judul              : Perempuan di Titik Nol
Penulis
           : Nawal el-Saadawi
Penerbit
         : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Terbitan         : Ketiga belas, Maret 2018
Tebal
              : 176 halaman.
ISBN               : 978-602-433-438-3

 

Keberadaan R.A Kartini di Indonesia menjadi bukti sejarah, bahwa gerakan emansipasi pernah digaungkan. Sosok perempuan yang bijaksana itu menuntut persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dia cerdas, perseptif, tidak patah  semangat memperjuangkan hak-hak perempuan yang merasa terikat. Sosok yang teguh pendirian, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur 24 tahun. Namun meski begitu, ia memiliki kontribusi tinggi terhadap peradaban bangsa ini.

Membaca Novel Perempuan di Titik Nol ini, kita akan dingatkan lagi pada kejadian masa lalu yang memilukan di atas. Di mana R.A Kartini pernah mengabadikan ceritanya dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” saat dirinya tak punya ruang kebebasan berekspresi untuk sekedar menyuarkan pendapatnya. Beda halnya dengan Novel yang ditulis Nawal el-Saadawi ini,  seorang dokter psikiater perempuan di Mesir, yang mengungkap cerita dari balik sel penjara Qanatir dan mengisahkan lika-liku kehidupannya tentang Firdaus yang divonis hukum gantung karena telah membunuh seorang germo.

Terdapat kisah heroik yang menggugah dalam kisah yang ditulis Saadawi, Firdaus ini sudah menjadi pelacur dari sejak kecil di desa hingga ia menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo. Namun setelah mendapat hukuman, ia menyambut gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada presiden yang diusulkan oleh dokter penjara, menurut Firdaus “vonis hukum mati” justru merupakan jalan menuju “kebenaran sejati”.

“Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. Ia melindungi saya dari saya takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran.” (hal.171) kata-katanya menyiratkan yang dia perjuangkan itu, yaitu tentang “kebenaran sejati,” dia sadar atas kesalahan yang dia lakukan, tetapi meski begitu siapa yang telah melakukan itu semua, sehingga dia menjadi pelacur kelas atas? Lewat kisah nyata ini, kita justru bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki. Sebuah kritik yang pedas, dan di sisi lain mempraktikkan pola sikap bijaksana menyikapi kepribadian.

Buku yang keras dan pedas, sebagaimana ditulis Mochtar Lubis dalam Kata Pengantar buku ini. Kritik ini tercipta atas kegelisahan yang dialami Firdaus, karena hidupnya yang dipenuhi penderitaan. Maka tak heran bila ucapan yang keluar darinya, memunculkan kritik pedas bagi kaum lelaki Mesir kala itu. “Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka, dengan menukarkan prinsip kepintaran mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya seks bagi kami. Sesuatu yang disalah gunakan sesuatu yang dapat dijual.” (hal.145)

Di Indonesia ini amat mudah kita temukan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Padahal dalam kebudayaan bangsa kita lelaki amat mudah mengatakan perempuan amat dipuja dan dihormati. Tetapi praktiknya masih banyak perempuan Indonesia yang hidupnya hanya untuk melayani dan mengabdi pada suami belaka. Parahnya, dalam tradisi masyarakat primitif, perempuan digambarkan dengan tiga hal ini yakni sumur, kasur, dan dapur. Kepercayaan lama ini meyakini wanita sebagai makhluk Tuhan yang ditakdirkan sebagai orang yang berperan di wilayah domestik saja.

Buku ini terdiri tiga bab saja, namun karya ini telah mampu mengungkap permasalahan penindasan terhadap perempuan disegala bidang, baik itu politik, kelas sosial, ataupun budaya di Mesir. Perempuan di Titik Nol merupakan sebuah protes dan kecaman terhadap paham dan sistem Patriarki untuk semua laki-laki di Mesir. Dan, dari sana jugalah permasalahan gender menjadi terbeberkan sedemikian rupa. Untuk langkah berikutnya, kita diajak belajar pada cerita ini bahwa menghargai hak-hak perempuan sangatlah penting  adanya.

Sayangnya, karena Novel ini merupakan terjemahan dari bahasa Arab. Maka bahasanya kurang layak dikonsumsi anak-anak. Buku ini lebih cendrung dikonsumsi orang dewasa. Jadi buku ini sangat layak dibaca para pendidik, orang tua, khususnya perempuan agar bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Akan tetapi tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Wallahu a’lam.

 Selamat membaca!

Menguak Semangat Organisasi di Pesantren

(Sebuah ikhtiar mengawal santri melek organisasi)

Belajar organisasi di pesantren, tentu tidak jauh beda secara toeritis dengan organisasi non-pesantren pada umumnya. Membaca dari praktik teori maupun yang lainnya, hanya sedikit perbedaan yang tampak nyata, karena pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan tertua di Indonesia. Sebagaimana pesantren menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya, pesantren baginya adalah lembaga pendidikan yang memiliki sistem kepemimpinan karismatik.  Zarkasyi (pendiri Pondok Modern Daarussalam Gontor) mendefinisikan bahwa pesantren adalah sebuah sistem  pendidikan yang dibawa para kiai. Di dalamnya para santri diajarkan pula cara berorganisasi secara baik dan benar, sesuai dengan etika atau tata kelola organisasi.

Organisasi ini pula  dijadikan program wajib dalam pengembangan sistem pendidikan kepesantrenan. Tujuan pelaksanaan sistem ini tiada lain selain upaya untuk membentuk santri organisatoris, selain tahu betul ilmu keagamaan, namun digodok pula dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan organisasi. Menjaga dan menyiapkan diri keperibadiannya menghadapi segala tantangan dan ancaman di masa modernisasi.

Organisasi merupakan wahana kreatifitas bersama, untuk dapat mengembangkan minat, bakat serta kemampuan lainnya yang tidak difasilitasi di luar organisasi. Pasalnya, ketika santri sungguh-sungguh dalam berproses di organisasi ia akan menemukan keistimewaan tersendiri dalam meraih cita-citanya. Apalagi mendalaminya dengan ketekunan, tentu menemukan titik temu solidaritas yang tinggi, karena organisasi pengertian sederhananya sebuah perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan atau cita-cita bersama. Semisal menurut Rosenzweig, organisasi dapat dipandang sebagai: sistem sosial, yaitu orang-orang dalam kelompok; Integrasi atau kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama; orang-orang yang berorientasi atau berpedoman pada tujuan bersama. Maka, supaya tujuan itu terwujud sangat dibutuhkan kerja  sama yang intensif, komunikasi yang baik, beserta memiliki etos kerja yang dapat dipertanggung jawabkan.

Hal yang paling urgen untuk dipertahankan sampai detik ini yaitu masih bersihnya dari intervensi politik praktis, eksistensi organisasi pesantren. Dari itu kemudian, pesantren menjadi sangat tepat bagi kalangan santri untuk belajar organisasi dengan baik dan sungguh-sungguh sebelum turun langsung menghadapi segala problematika di masyarakat. Karena di pesantren-lah para santri diajarkan mandiri, mengabdi dengan setulus hati pada bangsa dan negeri ini. Beda halnya dengan organisasi non-pesantren, yang gampang disetir oleh sebuah kelompok lain demi suatu kepentingan terselubung.

Sebagaimana menurut KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974) Para santri adalah anak-anak rakyat, mereka jadi amat paham tentang arti kata rakyat. Paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat dan cita-citanya, suka-dukanya, tentang nasibnya , dan segala lika-liku hidup rakyat. Sebagai anak-anak dari rakyat, maka para santri lahir dari sana demikian mereka hidup lalu mati pun di sana pula. Belajar organisasi adalah proses mengenal jati dirinya, sebagai mahkluk sosial mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.  Maka, sudah sewajarnya berpartisipasi aktif dalam berbagai aktifitas di pesantren, agar kecanggungan pupus dalam menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Tata kelola organisasi pesantren

Tidak cukup organisasi berjalan sewajarnya saja tanpa ada peningkatan nilai yang terkandungnya. Untuk memenuhi visi dan misi organisasi ada banyak hal metode yang harus dan bahkan wajib dimiliki bagi seseorang yang belajar organisasi, utamanya bagi leader (pemimpin) organisasi adalah suatu keharusan belajar manajemen (pengelolaan) dengan baik agar tercipta suatu organisasi yang terorganisir, disiplin dalam menjalankan tugasnya.

Lain lagi hal mengenai definisi tata kelola organisasi, secara umum dapat dikatakan bahwa tata kelola organisasi adalah suatu sistem atau cara maupun proses yang mengatur dan mengendalikan hubungan antara pihak manajemen (pengelola) dengan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap organisasi mengenai hak-hak dan kewajiban mereka, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan. Tata kelola organisasi ini mempunyai lima prinsip dasar yaitu sebagai berikut:

Pertama, Transparansi, yaitu keterbukaan dalam proses dan pengungkapan informasi, kinerja organisasi secara akurat. Ketika pengungkapan terbuka secara lebar dan faktual, maka organisasi akan menemukan titik esensi kelemahan dan kemajuan organisasi sendiri dalam mengawal anak bangsa. Jadi, sifat terbuka ini menjadi modal awal bagi kita demi mewujudkan organisasi yang progresif. Contoh kecilnya ketika ada problem konflik antar oknum orgnisasi, maka untuk menyelesaikan perkara tersebut harus pula dirembukkan bersama dicarikan solusinya agar terciptanya iklim yang tidak menghawatirkan kemudian mengakibatkan apatis berorganisasi.

Kedua, Independensi, yaitu kebebasan melaksanakan tugas dan kewenangan tanpa tekanan pihak lain. Ada banyak cara terkadang menghampiri daya fikir kita, untuk menghindar dari tanggung jawab yang telah diembankannya. Sebetulnya, tidak seperti demikian kebebasan yang patut diaplikasikan, tetapi adalah kebebasan dalam berkretifitas dalam menjalankan tugas yang sudah diamanahkan. Adakalanya memang perlu kebebasan dari diri kita sendiri, namun ketika memusyawarahkan terlebih dahulu hal itu maka akan lebih baik hasil yang akan kita capai, kunci dari segala tindakan itu yaitu tidak menyalahi aturan yang telah menjadi ketetapan.

Ketiga, Keadilan, yaitu Kesetaraan perlakuan terhadap para bawahan organisasi maupun atasan organisasi. Artinya keputusan ini tidak dapat langsung dilakukakan sewenang-wenangnya tetapi harus pula berpihak pada kebenaran. Kenyataan yang terjadi telah kita rasakan, bagaimana ketika pemimpin tidaka adil pada rakyatnya? pasti  segala hujatan, dan makin datang dari mana-mana. Akhirnya kesejahteraan bagi pihak mereka merasa tidak terpenuhi, resah merasa termaginalkan. Sama halnya dalam permainan sepak bola, jika sang wasit tidak bersikap adil dalam memberikan keputasan tunggulah balas dendam dari seporter mereka yang merasa ditipu di depan orang banyak. Organisasi juga demikian, ketika tidak ada perilaku adil di antara pengurus dan anggotanya akan menimbulkan problem setiap harinya.

Keempat, Akuntabilitas, yaitu pengelolaan organisasi sesuai dengan tugas dan kewenangan yang didasari itikad (kepercayaan) baik. Sebuah organisasi tidak selamanya melihat seberapa pandai kita menata konsep yang mapan, namun kerja keras lebih diutamakan dari yang lainnya. Oleh sebab itulah, kepercayaan harus ditanamkan dalam diri kita dan menyadari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) atas keberadaan kita hidup di organisasi.

Kelima,Tanggung jawab, yaitu pertanggungjawaban kepada pihak berkepentingan (stakeholders) sesuai peraturan dan etika usaha yang berlaku dalam pesantren. Tanggung jawab merupakan hal signifikan dalam organisasi, agar tercapainya efisiensi pelayanan yang dapat meningkatkan kualitas beserta operasional oganisasi. Sikap ini mudah diucapkan tapi sukar dipraktikkan bukan?. Wallahu ‘A’lam...

 

Annuqayah, 31 Juli 2018

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...