Judul : Shollu’alan Nabi
Penulis : Umi Azizah Khalil
Penerbit : Araska Pulisher
Cetakan : 1, Januari, 2020
Tebal : 232 Halaman
ISBN : 978-623-7537-36-6
Dari sejak dahulu kebiasaan membaca shalawat
cukup mengakar kuat di bumi Nusantara ini. Apalagi bagi kelompok masyarakat
tertentu, shalawat begitu akrab dibaca setiap minggunya sebagai bentuk ekspresi
hormat dan cintanya kepada Rasulullah Saw. Shalawat di sini mempunyai banyak
macam, salah satu shalawat yang sering dibaca pada saat pekumpulan masyarakat
adalah shalawat al-barzanji, dan burdah.
Sebagian
besar dari mereka sudah tidak peduli meski beberapa aliran dalam Islam,
khususnya kelompok Wahabi, mengharamkan dan membidahkan, namun tradisi
bershalawat ini tetap terus menggema dan tidak pernah surut. Tradisi ini justru
semakin berkembang bahkan dikreasikan dalam bentuk seni dan budaya di tengah
masyarakat.
Terutama saat bulan Rabi’ul Awal misalkan,
umat Islam memperingatinya dengan beragam ekspresi penghormatan dan
kebahagiaan. Di Madura, salah satu acara yang sering dilaksanakan masyarakat di
bulan maulid yaitu pembacaan shalawat Diba’ atau Barzanji
oleh sekumpulan orang secara bersama-sama serta bersambut-sambutan, biasanya
diiringi pukulan rebana dan beberapa alat musik setempat.
Buku
yang berjudul “Shollu’alan Nabi” ini berusaha memotret ritual keagaman
umat muslim dalam hal membaca shalawat. Selain dijelaskan membacanya bernilai
ibadah, membaca shalawat sebagai wujud cinta (mahabbah) kita kepada Nabi
Muhammad Saw. Di samping itu, akan jadi perantara datangnya rahmat dan kasih
sayang Allah kepada para pembacanya. Bershalawat dengan demikian juga merupakan
wasilah kita untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt.
Ada beragam kisah tentang seseorang
yang sukses karena mengamalkan shalawat. Kisah itu bisa ditemukan dalam buku
ini, salah satu kisah yang dikutip dalam buku ini adalah kisah
seorang nenek tua penjual bunga cempaka yang rajin bersholawat. Nenek tersebut
berasal dari salah satu kota di pulau Madura. Setelah berjualan di pasar, ia
pergi ke masjid untuk shalat dan usai melaksanakan shalat ia memungut dedaunan
yang berceceran di halaman masjid. Sambil memungut dedaunan di halaman masjid,
ia bacakan shalawat. Nenek tua tersebut memang mengakui bahwa dirinya adalah
orang bodoh dan tidak akan mungkin mendapatkan syafaat di akhirat kelak tanpa
pertolongan syafaat dari nabi Muhammad SAW. “Kelak jika saya mati, saya ingin
kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya
membacakan shalawat kepadanya”. (hal. 141)
Dalam
hal shalawat ini, bukan cuma manusia saja yang bershalawat. Allah dan malaikat
pun juga bershalawat. Kalau Allah saja bershalawat kepada Nabi; malaikat saja
bershalawat, maka sungguh “sombongnya” kita sebagai manusia jika tidak mau
bershalawat kepada baginda Rasul. Allah bershalawat kepada Nabi Saw. itu
menunjukkan Allah sangat mencintai dan menyayangi manusia mulia sekaligus sebagai
Nabi dan Rasul terakhir itu.
Oleh
karenanya, di tengah kegersangan spiritual manusia melewati arus modernisme
ini. Kita serasa perlu meluangkan waktu sejenak untuk bershalawat kepada baginda
Nabi Saw. Sebab, hanya pada diri beliaulah terdapat suri teladan yang baik bagi
semua manusia di muka bumi.
Selain
itu, buku yang ditulis Umi Azizah Khalil ini, memberikan langkah pencerah agar senantiasa
menjadi pribadi yang saleh sosial, mudah bersyukur atas nikmat yang diberikan
Allah Swt. Dan mengingatkan, bahwa segala perbuatan baik tidak akan berharga di
hadapan Tuhan, apabila kita tidak mendapatkan ridha dari-Nya dan syafaat
kanjeng Nabi Muhammad Saw.
Buku ini cukup enak dibaca bagi siapa
saja, dan perlu dipelajari bagi mereka yang ingin memantapkan pengalaman
spiritulnya. Karena di dalamnya menjelaskan secara lugas tentang shalawat, baik
mengenai makna sholawat, manfaat dan fadilah membaca shalawat, macam-macam teks
shalawat, dan juga kisah-kisah menarik para pengamal shalawat. Selamat membaca!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar