Selasa, 12 Agustus 2025

Bershalawat Sebagai Wujud Mahabbah Kepada Kanjeng Nabi

 Judul              : Shollu’alan Nabi   

Penulis          : Umi Azizah Khalil

Penerbit         : Araska Pulisher

Cetakan         : 1, Januari, 2020

Tebal              : 232 Halaman

ISBN              : 978-623-7537-36-6

           

            Dari sejak dahulu kebiasaan membaca shalawat cukup mengakar kuat di bumi Nusantara ini. Apalagi bagi kelompok masyarakat tertentu, shalawat begitu akrab dibaca setiap minggunya sebagai bentuk ekspresi hormat dan cintanya kepada Rasulullah Saw. Shalawat di sini mempunyai banyak macam, salah satu shalawat yang sering dibaca pada saat pekumpulan masyarakat adalah shalawat al-barzanji, dan burdah.

Sebagian besar dari mereka sudah tidak peduli meski beberapa aliran dalam Islam, khususnya kelompok Wahabi, mengharamkan dan membidahkan, namun tradisi bershalawat ini tetap terus menggema dan tidak pernah surut. Tradisi ini justru semakin berkembang bahkan dikreasikan dalam bentuk seni dan budaya di tengah masyarakat.

Terutama saat bulan Rabi’ul Awal misalkan, umat Islam memperingatinya dengan beragam ekspresi penghormatan dan kebahagiaan. Di Madura, salah satu acara yang sering dilaksanakan masyarakat di bulan maulid yaitu pembacaan shalawat Diba’ atau Barzanji oleh sekumpulan orang secara bersama-sama serta bersambut-sambutan, biasanya diiringi pukulan rebana dan beberapa alat musik setempat.

Buku yang berjudul “Shollu’alan Nabi” ini berusaha memotret ritual keagaman umat muslim dalam hal membaca shalawat. Selain dijelaskan membacanya bernilai ibadah, membaca shalawat sebagai wujud cinta (mahabbah) kita kepada Nabi Muhammad Saw. Di samping itu, akan jadi perantara datangnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada para pembacanya. Bershalawat dengan demikian juga merupakan wasilah kita untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Swt.

            Ada beragam kisah tentang seseorang yang sukses karena mengamalkan shalawat. Kisah itu bisa ditemukan dalam buku ini, salah satu kisah yang dikutip dalam buku ini adalah kisah seorang nenek tua penjual bunga cempaka yang rajin bersholawat. Nenek tersebut berasal dari salah satu kota di pulau Madura. Setelah berjualan di pasar, ia pergi ke masjid untuk shalat dan usai melaksanakan shalat ia memungut dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Sambil memungut dedaunan di halaman masjid, ia bacakan shalawat. Nenek tua tersebut memang mengakui bahwa dirinya adalah orang bodoh dan tidak akan mungkin mendapatkan syafaat di akhirat kelak tanpa pertolongan syafaat dari nabi Muhammad SAW. “Kelak jika saya mati, saya ingin kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya”. (hal. 141)

Dalam hal shalawat ini, bukan cuma manusia saja yang bershalawat. Allah dan malaikat pun juga bershalawat. Kalau Allah saja bershalawat kepada Nabi; malaikat saja bershalawat, maka sungguh “sombongnya” kita sebagai manusia jika tidak mau bershalawat kepada baginda Rasul. Allah bershalawat kepada Nabi Saw. itu menunjukkan Allah sangat mencintai dan menyayangi manusia mulia sekaligus sebagai Nabi dan Rasul terakhir itu.

Oleh karenanya, di tengah kegersangan spiritual manusia melewati arus modernisme ini. Kita serasa perlu meluangkan waktu sejenak untuk bershalawat kepada baginda Nabi Saw. Sebab, hanya pada diri beliaulah terdapat suri teladan yang baik bagi semua manusia di muka bumi.

Selain itu, buku yang ditulis Umi Azizah Khalil ini, memberikan langkah pencerah agar senantiasa menjadi pribadi yang saleh sosial, mudah bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. Dan mengingatkan, bahwa segala perbuatan baik tidak akan berharga di hadapan Tuhan, apabila kita tidak mendapatkan ridha dari-Nya dan syafaat kanjeng Nabi Muhammad Saw.

            Buku ini cukup enak dibaca bagi siapa saja, dan perlu dipelajari bagi mereka yang ingin memantapkan pengalaman spiritulnya. Karena di dalamnya menjelaskan secara lugas tentang shalawat, baik mengenai makna sholawat, manfaat dan fadilah membaca shalawat, macam-macam teks shalawat, dan juga kisah-kisah menarik para pengamal shalawat. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...