Selasa, 12 Agustus 2025

Memahami Kehadiran Media Baru di Era Global

 

Judul`             : Politik Sirkulasi Budaya Pop

Penulis           : Wahyudi Akmaliah
Penerbit         : Buku Mojok
Terbitan         : Pertama, April 2019
Tebal              : 193 halaman
ISBN               : 978-602-1318-94-2

Presensi         : Abd. Malik*

 

            Kehadiran internet di Indonesia membawa perubahan tersendiri di era kekinian. Perubahan ini sedikit menggeser media kita dengan menghasilkan media baru yang pada awalnya mereproduksi media lama seperti televisi, radio dan media cetak (koran dan majalah). Dalam media baru, sirkulasi memegang peranan kunci bagaimana proses informasi itu bekerja dan sampai ke tangan masyarakat.

Pada akhirnya, kehadiran internet khususnya media sosial, tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi melainkan juga membentuk berbagai pola baru aktivitas keseharian masyarakat. Dengan begitu, masyarakat Indonesia dalam hal politik tidak bisa dilepaskan dari penggunaan media sosial, baik sebagai kampanye politik, pertarungan gagasan, pelintiran hoaxs, ataupun sebagai bagian dari gerakan sosial.

Buku ini berusaha menggambarkan proses perubahan tersebut dengan melihat perkembangan budaya populer, kondisi politik, serta komodifikasi agama yang terjadi di Indonesia. Terlihat jelas yang digambarkan dalam salah satu jenis judul tulisannya, “Menghitung Kekuatan Via Vallen-Nella Kharisma di Pilkada.” Di sini diungkap keterlibatan Nella Karisma dan Via Vallen dalam pemenangan tim kampanye Gus Ipul dalam Pilkada di Jawa Timur pada tahun 2018 (hal. 13) Melalui produk-produk budaya pop ini setiap calon akan menunjukkan  dan merepresentasikan diri mereka berpihak kepada siapa melalui video yang diunggah di  pelbagai media.

Di samping itu, buku ini menjelaskan gelombang islamisasi dan komodifikasi agama yang menjadi ancaman serius bagi kawula muda. Karena situs yang terindikasi menyebarkan hoaxs dan kebencian mengenai pelintiran agama menempati urutan teratas dibanding situs resmi yang dimiliki ormas terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Karenanya di tengah seseorang keranjingan gadget ada hal pokok yang perlu diwaspadai, utamanya menyangkut radikalisme, internet memiliki faktor yang signifikan dalam pembentukan elemen radikalisme, dan bahkan jejaring radikalisme kepada anak-anak muda.

Diperkuat melalui pemaparan hasil survei data statistik pengguna internet Indonesia oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada 2016 mengemukakan bahwa dari total pengguna internet di Indonesia dengan jumlah 132 juta orang, setengahnya diakses oleh anak muda (usia 17-34 tahun), dengan jumlah 56,7 juta orang (4,2%). Jumlah ini tentu sangat  banyak dan relatif rentan terpapar ideologi radikalisme dan terorisme. Kekhawatiran menguat BNPT menyebutkan bahwa 52% yang menjadi napi terorisme dalm LP tersebut adalah anak-anak muda. (hal. 152)

Itulah sedikit situasi politik dan kondisi agama yang terjadi, dan digambarkan dalam buku ini. Buku demikian dapat memenuhi keinginan kita yang ingin mengetahui peta politik Indonesia saat sekarang. Yang mana terbagi tiga tema besar yang ditulis Wahyudi Akmaliah ini, pertama, meliputi budaya pop dalam pusaran kekuasaan. Kedua, media baru dan pergeseran otoritas. Ketiga, gelombang islamisasi dan komodifikasi agama.

Ketiga tema besar ini menghasilkan empat puluh jenis judul, dan dihadirkan dengan bahasa yang mudah kita dipahami. Namun, meski begitu buku ini tergolong berhasil dalam mengungkap politik sirkulasi dan budaya pop di era industri 4.0. Seperti dalam buku ini juga dijelaskan mengapa Jokowi memilih KH. Ma’ruf Amin menjadi calon wakil presiden di tahun 2019 kemarin. Padahal, sejumlah lembaga survei pun mengunggulkan Mahfud MD yang dapat mewakili semangat reformasi. Pertanyaan ini terjawab melalui satu karya tulis Wahyudi.

Buku ini baik dibaca dan dimilki siapa saja bagi yang ingin mengetahui lebih banyak lagi perkembangan politik kekinian dan media baru di era global. Selain ditulis dengan bahasa yang renyah, juga berdasarkan data-data akurat, serta penulis memaparkan isu-isu aktual yang masih membingungkan masyarakat. Maka dari itu, cukup penting untuk semua orang yang ingin belajar memahami budaya baru dan media baru yang terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Wallahu a’lam.

Selamat membaca!

 

 

*Penulis adalah Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...