Judul` : Politik Sirkulasi Budaya Pop
Penulis : Wahyudi Akmaliah
Penerbit : Buku Mojok
Terbitan : Pertama, April 2019
Tebal : 193 halaman
ISBN : 978-602-1318-94-2
Presensi : Abd. Malik*
Kehadiran internet di Indonesia membawa
perubahan tersendiri di era kekinian. Perubahan ini sedikit menggeser media
kita dengan menghasilkan media baru yang pada awalnya mereproduksi media lama
seperti televisi, radio dan media cetak (koran dan majalah). Dalam media baru,
sirkulasi memegang peranan kunci bagaimana proses informasi itu bekerja dan
sampai ke tangan masyarakat.
Pada akhirnya, kehadiran internet khususnya media sosial, tidak hanya
mengubah cara orang berkomunikasi melainkan juga membentuk berbagai pola baru
aktivitas keseharian masyarakat. Dengan begitu, masyarakat Indonesia dalam hal
politik tidak bisa dilepaskan dari penggunaan media sosial, baik sebagai
kampanye politik, pertarungan gagasan, pelintiran hoaxs, ataupun sebagai bagian
dari gerakan sosial.
Buku ini berusaha menggambarkan proses perubahan tersebut dengan melihat
perkembangan budaya populer, kondisi politik, serta komodifikasi agama yang
terjadi di Indonesia. Terlihat jelas yang digambarkan dalam salah satu jenis
judul tulisannya, “Menghitung Kekuatan Via Vallen-Nella Kharisma di Pilkada.” Di
sini diungkap keterlibatan Nella Karisma dan Via Vallen dalam pemenangan tim
kampanye Gus Ipul dalam Pilkada di Jawa Timur pada tahun 2018 (hal. 13) Melalui
produk-produk budaya pop ini setiap calon akan menunjukkan dan merepresentasikan diri mereka berpihak
kepada siapa melalui video yang diunggah di
pelbagai media.
Di samping itu, buku ini menjelaskan gelombang islamisasi dan komodifikasi
agama yang menjadi ancaman serius bagi kawula muda. Karena situs yang
terindikasi menyebarkan hoaxs dan kebencian mengenai pelintiran agama menempati
urutan teratas dibanding situs resmi yang dimiliki ormas terbesar di Indonesia
yaitu NU dan Muhammadiyah. Karenanya di tengah seseorang keranjingan gadget ada
hal pokok yang perlu diwaspadai, utamanya menyangkut radikalisme, internet
memiliki faktor yang signifikan dalam pembentukan elemen radikalisme, dan
bahkan jejaring radikalisme kepada anak-anak muda.
Diperkuat melalui pemaparan hasil survei data statistik pengguna internet
Indonesia oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada
2016 mengemukakan bahwa dari total pengguna internet di Indonesia dengan jumlah
132 juta orang, setengahnya diakses oleh anak muda (usia 17-34 tahun), dengan
jumlah 56,7 juta orang (4,2%). Jumlah ini tentu sangat banyak dan relatif rentan terpapar ideologi
radikalisme dan terorisme. Kekhawatiran menguat BNPT menyebutkan bahwa 52% yang
menjadi napi terorisme dalm LP tersebut adalah anak-anak muda. (hal. 152)
Itulah sedikit situasi politik dan kondisi agama yang terjadi, dan
digambarkan dalam buku ini. Buku demikian dapat memenuhi keinginan kita yang
ingin mengetahui peta politik Indonesia saat sekarang. Yang mana terbagi tiga
tema besar yang ditulis Wahyudi Akmaliah ini, pertama, meliputi budaya
pop dalam pusaran kekuasaan. Kedua, media baru dan pergeseran otoritas. Ketiga,
gelombang islamisasi dan komodifikasi agama.
Ketiga tema besar ini menghasilkan empat puluh jenis judul, dan dihadirkan
dengan bahasa yang mudah kita dipahami. Namun, meski begitu buku ini tergolong
berhasil dalam mengungkap politik sirkulasi dan budaya pop di era industri 4.0.
Seperti dalam buku ini juga dijelaskan mengapa Jokowi memilih KH. Ma’ruf Amin
menjadi calon wakil presiden di tahun 2019 kemarin. Padahal, sejumlah lembaga
survei pun mengunggulkan Mahfud MD yang dapat mewakili semangat reformasi.
Pertanyaan ini terjawab melalui satu karya tulis Wahyudi.
Buku ini baik dibaca dan dimilki siapa saja bagi yang ingin mengetahui lebih
banyak lagi perkembangan politik kekinian dan media baru di era global. Selain
ditulis dengan bahasa yang renyah, juga berdasarkan data-data akurat, serta
penulis memaparkan isu-isu aktual yang masih membingungkan masyarakat. Maka
dari itu, cukup penting untuk semua orang yang ingin belajar memahami budaya
baru dan media baru yang terus mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Wallahu
a’lam.
Selamat membaca!
*Penulis adalah Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Guluk-Guluk Sumenep.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar