Judul : Tasawuf Jawa
Penulis : Dr. Hj. Sri Harini, M.Ag
Penerbit : Araska Pulisher
Cetakan : 1 Juli
2019
Tebal : 284 Halaman
ISBN : 978-623-7145-45-5
Pandangan seseorang tentang tasawuf sempat
mengalami simpang siur di kalangan Islam sendiri. Kalau kelompok Islam puritan
dan formalistik memandang tasawuf sebagai gerakan bid’ah dan syirik karena
cendrung memuju mistik. Sementara kelompok lain, memandang tasawuf sebagai
bagian integral dalam Islam yang nilai-nilai esensinya sudah ada sejak zaman
Nabi dan sahabat.
Simpang siur ini karena adanya pengertian
tasawuf yang banyak disalah pahami oleh sebagian besar masyarakat. Dianggapnya tasawuf
dapat menjauhkan manusia dari lingkungan sekitarnya. Padahal tasawuf tidak bisa
diartikan sesempit itu, tasawuf adalah ilmu untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun
nafs) kita yang kotor. Jika hatinya bersih dan jiwanya suci, maka
perilakunya akan baik.
Dalam disiplin ilmu agama Islam, ada tiga
unsur disiplin. Pertama, Tauhid persoalan ketuhanan. Kedua, fikih atau syariat
sebagai ilmu lahir, maka yang ketiga tasawuf merupakan ilmu yang berorientasi
pada ranah batin. Tujuan utama adalah membersihkan hati dari berbagai
kotoran-kotoran rohani seperti sombong, tidak jujur, suka berbohong, suka memfitnah,
suka marah, suka bikin hoax, hasud, dengki, dan sebagainya.
Untuk
itu, diantara ajaran penting dari tasawuf jawa adalah sangkan paraning dumadi,
manunggaling kawulo gusti. Secara literal ajaran ini bermakna: asal muasal
kehidupan, bersatunya manusia (ciptaan) dengan Tuhan. Ajaran ini, dalam tasawuf
Jawa yang disebut dengan ilmu kesempurnaan atau ilmu kesejatian. (hal. 90)
Sifat tasawuf yang menekankan pada
olah rasa manusia ini membuatnya dapat bertemu dan bersatu dengan tradisi lain,
termasuk dengan tradisi Jawa. Di mana
peradaban Jawa juga bertumpu pada alam batin. Sehingga tidak heran karya-karya
yang lahir dari tangan para ulama Jawa bernuansa ajaran tasawuf. Dan ajarannya
tetap menjadi patokan hidup orang-orang Jawa dalam menjalani hiruk pikuk keidupan.
Tasawuf Jawa ini menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan,
salah satunya dengan Tuhan, manusia dan alam. Orang Jawa yang ideal adalah mereka yang
melakukan kewajibannya terlebih dahulu daripada menuntut hak. Kerukunan bagi orang Jawa menduduki posisi penting
bahkan cenderung mengedepankan
kerukunan sosial daripada kerukunan pribadi.
Salah satu ajaran tasawuf Jawa seperti
ditemukan dalam Kitab Saloka Jiwa, Ranggawarsita menjelaskan soal asal
mula penciptaan: “Buka kawruh kasampurnaan/wulanging guru ing nguni/iya in
satuhunira/sadurunge ana sami/awing nguwung nur rakyat/amolya ana nganasir/gya
tumangkar bumu geni angina toyal/,” yang artinya itu: “Membuka ilmu
hakikat, pelajaran para guru masa lalu, bahwa sebelum adanya alam kosong ini,
yang ada hanyalah Tuhan, yang Mahaluhur, menyinarkan Nur Muhammad yang kemudian memancarkan empat anasir yakni
bumi, api, angin, dan air.” (hal. 127)
Selain dari itu, Sri Harini sebagai penulis
buku ini mengupas tasawuf Jawa dari sisi historis maupun isinya. Dalam tasawuf
inilah kita disuguhkan samudra hikmah dan nilai-nilai moral yang begitu luas,
sebagai kombinasi dari khazanah tasawuf
dan tradisi Jawa.
Hasil penelitian Niels Mulder, konsep etika Jawa pada
prinsipnya lebih diletakkan di atas ukuran pantas dan tidak pantas. Obyek etika
Jawa di antaranya terdapat dalam pernyataan-pernyataan yang mengandung nilai-nilai
moral. Hildred Geertz mengemukakan dua kaidah dasar yang paling
menentukan sistem pergaulan manusia Jawa yaitu, pertama bahwa dalam
setiap situasi manusia hendaknya bersikap bijak bestari agar tidak sampai
menimbulkan konflik, dan kedua menuntut agar manusia dalam berbicara dan
membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan
derajat dan kedudukannya. (hlm. 170)
Membaca buku ini membawa ingatan kita pada sejarah
perjuangan Wali Songo disaat menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Salah metode
yang dipakai untuk mengajak masyarakat agar mau masuk Islam adalah melalui
pendekatan budaya yang bernafaskan tasawuf. Akhirnya, melalui dakwahnya yang
humanis mampu menghipnotis masyarakat luas dan sampai saat ini perjungan leluhur
itu mulai terasa. Jumlah umat Islam tergolong mayoritas di Indonesia.
Nilai-nilai kesalehan spiritual masih tetap dijaga secara baik, hidup rukun
bersama agama yang lain.
Selamat membaca!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar