Selasa, 12 Agustus 2025

Belajar Bijak Mengarungi Hidup dari Tasawuf Jawa

 Judul              : Tasawuf Jawa

Penulis          : Dr. Hj. Sri Harini, M.Ag

Penerbit         : Araska Pulisher

Cetakan         : 1 Juli 2019

Tebal              : 284 Halaman

ISBN              : 978-623-7145-45-5

Pandangan seseorang tentang tasawuf sempat mengalami simpang siur di kalangan Islam sendiri. Kalau kelompok Islam puritan dan formalistik memandang tasawuf sebagai gerakan bid’ah dan syirik karena cendrung memuju mistik. Sementara kelompok lain, memandang tasawuf sebagai bagian integral dalam Islam yang nilai-nilai esensinya sudah ada sejak zaman Nabi dan sahabat.

Simpang siur ini karena adanya pengertian tasawuf yang banyak disalah pahami oleh sebagian besar masyarakat. Dianggapnya tasawuf dapat menjauhkan manusia dari lingkungan sekitarnya. Padahal tasawuf tidak bisa diartikan sesempit itu, tasawuf adalah ilmu untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) kita yang kotor. Jika hatinya bersih dan jiwanya suci, maka perilakunya akan baik.

Dalam disiplin ilmu agama Islam, ada tiga unsur disiplin. Pertama, Tauhid persoalan ketuhanan. Kedua, fikih atau syariat sebagai ilmu lahir, maka yang ketiga tasawuf merupakan ilmu yang berorientasi pada ranah batin. Tujuan utama adalah membersihkan hati dari berbagai kotoran-kotoran rohani seperti sombong, tidak jujur, suka berbohong, suka memfitnah, suka marah, suka bikin hoax, hasud, dengki, dan sebagainya.

            Untuk itu, diantara ajaran penting dari tasawuf jawa adalah sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo gusti. Secara literal ajaran ini bermakna: asal muasal kehidupan, bersatunya manusia (ciptaan) dengan Tuhan. Ajaran ini, dalam tasawuf Jawa yang disebut dengan ilmu kesempurnaan atau ilmu kesejatian. (hal. 90)

Sifat tasawuf yang menekankan pada olah rasa manusia ini membuatnya dapat bertemu dan bersatu dengan tradisi lain, termasuk  dengan tradisi Jawa. Di mana peradaban Jawa juga bertumpu pada alam batin. Sehingga tidak heran karya-karya yang lahir dari tangan para ulama Jawa bernuansa ajaran tasawuf. Dan ajarannya tetap menjadi patokan hidup orang-orang Jawa  dalam menjalani hiruk pikuk keidupan.

Tasawuf Jawa ini menekankan keharmonisan, keselarasan pada setiap dimensi kehidupan, salah satunya dengan Tuhan, manusia dan alam. Orang Jawa yang ideal adalah mereka yang melakukan kewajibannya terlebih dahulu daripada menuntut hak. Kerukunan bagi orang Jawa menduduki posisi penting bahkan cenderung mengedepankan kerukunan sosial daripada kerukunan pribadi.

Salah satu ajaran tasawuf Jawa seperti ditemukan dalam Kitab Saloka Jiwa, Ranggawarsita menjelaskan soal asal mula penciptaan: “Buka kawruh kasampurnaan/wulanging guru ing nguni/iya in satuhunira/sadurunge ana sami/awing nguwung nur rakyat/amolya ana nganasir/gya tumangkar bumu geni angina toyal/,” yang artinya itu: “Membuka ilmu hakikat, pelajaran para guru masa lalu, bahwa sebelum adanya alam kosong ini, yang ada hanyalah Tuhan, yang Mahaluhur, menyinarkan Nur Muhammad  yang kemudian memancarkan empat anasir yakni bumi, api, angin, dan air.” (hal. 127)

Selain dari itu, Sri Harini sebagai penulis buku ini mengupas tasawuf Jawa dari sisi historis maupun isinya. Dalam tasawuf inilah kita disuguhkan samudra hikmah dan nilai-nilai moral yang begitu luas, sebagai kombinasi dari khazanah tasawuf  dan tradisi Jawa.

Hasil penelitian Niels Mulder, konsep etika Jawa pada prinsipnya lebih diletakkan di atas ukuran pantas dan tidak pantas. Obyek etika Jawa di antaranya terdapat dalam pernyataan-pernyataan yang mengandung nilai-nilai moral. Hildred Geertz mengemukakan dua kaidah dasar yang paling menentukan sistem pergaulan manusia Jawa yaitu, pertama bahwa dalam setiap situasi manusia hendaknya bersikap bijak bestari agar tidak sampai menimbulkan konflik, dan kedua menuntut agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya. (hlm. 170)

Membaca buku ini membawa ingatan kita pada sejarah perjuangan Wali Songo disaat menyebarkan Islam di bumi Nusantara. Salah metode yang dipakai untuk mengajak masyarakat agar mau masuk Islam adalah melalui pendekatan budaya yang bernafaskan tasawuf. Akhirnya, melalui dakwahnya yang humanis mampu menghipnotis masyarakat luas dan sampai saat ini perjungan leluhur itu mulai terasa. Jumlah umat Islam tergolong mayoritas di Indonesia. Nilai-nilai kesalehan spiritual masih tetap dijaga secara baik, hidup rukun bersama agama yang lain.  

Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...