Judul : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal el-Saadawi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Terbitan : Ketiga belas, Maret 2018
Tebal : 176 halaman.
ISBN : 978-602-433-438-3
Keberadaan
R.A Kartini di Indonesia menjadi bukti sejarah, bahwa gerakan emansipasi pernah
digaungkan. Sosok perempuan yang bijaksana itu menuntut persamaan hak dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat. Dia cerdas, perseptif, tidak
patah semangat memperjuangkan hak-hak
perempuan yang merasa terikat. Sosok yang teguh
pendirian, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu
terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur 24 tahun. Namun meski begitu, ia
memiliki kontribusi tinggi terhadap peradaban bangsa ini.
Membaca
Novel Perempuan di Titik Nol ini, kita akan dingatkan lagi pada kejadian
masa lalu yang memilukan di atas. Di mana R.A Kartini pernah mengabadikan
ceritanya dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” saat dirinya tak
punya ruang kebebasan berekspresi untuk sekedar menyuarkan pendapatnya. Beda
halnya dengan Novel yang ditulis Nawal el-Saadawi ini, seorang dokter psikiater perempuan di Mesir, yang
mengungkap cerita dari balik sel penjara Qanatir dan
mengisahkan lika-liku kehidupannya tentang Firdaus yang divonis hukum gantung
karena telah membunuh seorang germo.
Terdapat
kisah heroik yang menggugah dalam kisah yang ditulis Saadawi, Firdaus ini sudah
menjadi pelacur dari sejak kecil di desa hingga ia menjadi pelacur kelas atas
di kota Kairo. Namun setelah mendapat hukuman, ia menyambut
gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada
presiden yang diusulkan oleh dokter penjara, menurut Firdaus “vonis hukum mati”
justru merupakan jalan menuju “kebenaran sejati”.
“Mereka
tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka.
Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar.
Ia melindungi saya dari saya takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau
ketelanjangan, atau kehancuran.” (hal.171) kata-katanya menyiratkan yang dia
perjuangkan itu, yaitu tentang “kebenaran sejati,” dia sadar atas kesalahan
yang dia lakukan, tetapi meski begitu siapa yang telah melakukan itu semua,
sehingga dia menjadi pelacur kelas atas? Lewat kisah nyata ini, kita justru
bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki. Sebuah
kritik yang pedas, dan di sisi lain mempraktikkan pola sikap bijaksana
menyikapi kepribadian.
Buku
yang keras dan pedas, sebagaimana ditulis Mochtar Lubis dalam Kata Pengantar buku
ini. Kritik ini tercipta atas kegelisahan yang dialami Firdaus, karena hidupnya
yang dipenuhi penderitaan. Maka tak heran bila ucapan yang keluar darinya,
memunculkan kritik pedas bagi kaum lelaki Mesir kala itu. “Lelaki revolusioner
yang berpegang pada prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki
lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka, dengan menukarkan prinsip
kepintaran mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan
uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya seks bagi kami. Sesuatu yang disalah
gunakan sesuatu yang dapat dijual.” (hal.145)
Di
Indonesia ini amat mudah kita temukan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Padahal
dalam kebudayaan bangsa kita lelaki amat mudah mengatakan perempuan amat dipuja
dan dihormati. Tetapi praktiknya masih banyak perempuan Indonesia yang hidupnya
hanya untuk melayani dan mengabdi pada suami belaka. Parahnya, dalam tradisi
masyarakat primitif, perempuan digambarkan dengan tiga hal ini yakni sumur,
kasur, dan dapur. Kepercayaan lama ini meyakini wanita sebagai makhluk Tuhan
yang ditakdirkan sebagai orang yang berperan di wilayah domestik saja.
Buku
ini terdiri tiga bab saja, namun karya ini telah mampu mengungkap permasalahan
penindasan terhadap perempuan disegala bidang, baik itu politik, kelas sosial,
ataupun budaya di Mesir. Perempuan di Titik Nol merupakan sebuah protes dan
kecaman terhadap paham dan sistem Patriarki untuk semua laki-laki di Mesir. Dan,
dari sana jugalah permasalahan gender menjadi terbeberkan sedemikian rupa.
Untuk langkah berikutnya, kita diajak belajar pada cerita ini bahwa menghargai
hak-hak perempuan sangatlah penting
adanya.
Sayangnya,
karena Novel ini merupakan terjemahan dari bahasa Arab. Maka bahasanya kurang layak
dikonsumsi anak-anak. Buku ini lebih cendrung dikonsumsi orang dewasa. Jadi
buku ini sangat layak dibaca para pendidik, orang tua, khususnya perempuan agar
bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Akan tetapi tidak ada salahnya bila
kalangan lain pun membaca buku ini. Wallahu a’lam.
Selamat membaca!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar