Selasa, 12 Agustus 2025

Menguak Semangat Organisasi di Pesantren

(Sebuah ikhtiar mengawal santri melek organisasi)

Belajar organisasi di pesantren, tentu tidak jauh beda secara toeritis dengan organisasi non-pesantren pada umumnya. Membaca dari praktik teori maupun yang lainnya, hanya sedikit perbedaan yang tampak nyata, karena pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan tertua di Indonesia. Sebagaimana pesantren menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya, pesantren baginya adalah lembaga pendidikan yang memiliki sistem kepemimpinan karismatik.  Zarkasyi (pendiri Pondok Modern Daarussalam Gontor) mendefinisikan bahwa pesantren adalah sebuah sistem  pendidikan yang dibawa para kiai. Di dalamnya para santri diajarkan pula cara berorganisasi secara baik dan benar, sesuai dengan etika atau tata kelola organisasi.

Organisasi ini pula  dijadikan program wajib dalam pengembangan sistem pendidikan kepesantrenan. Tujuan pelaksanaan sistem ini tiada lain selain upaya untuk membentuk santri organisatoris, selain tahu betul ilmu keagamaan, namun digodok pula dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan organisasi. Menjaga dan menyiapkan diri keperibadiannya menghadapi segala tantangan dan ancaman di masa modernisasi.

Organisasi merupakan wahana kreatifitas bersama, untuk dapat mengembangkan minat, bakat serta kemampuan lainnya yang tidak difasilitasi di luar organisasi. Pasalnya, ketika santri sungguh-sungguh dalam berproses di organisasi ia akan menemukan keistimewaan tersendiri dalam meraih cita-citanya. Apalagi mendalaminya dengan ketekunan, tentu menemukan titik temu solidaritas yang tinggi, karena organisasi pengertian sederhananya sebuah perkumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan atau cita-cita bersama. Semisal menurut Rosenzweig, organisasi dapat dipandang sebagai: sistem sosial, yaitu orang-orang dalam kelompok; Integrasi atau kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama; orang-orang yang berorientasi atau berpedoman pada tujuan bersama. Maka, supaya tujuan itu terwujud sangat dibutuhkan kerja  sama yang intensif, komunikasi yang baik, beserta memiliki etos kerja yang dapat dipertanggung jawabkan.

Hal yang paling urgen untuk dipertahankan sampai detik ini yaitu masih bersihnya dari intervensi politik praktis, eksistensi organisasi pesantren. Dari itu kemudian, pesantren menjadi sangat tepat bagi kalangan santri untuk belajar organisasi dengan baik dan sungguh-sungguh sebelum turun langsung menghadapi segala problematika di masyarakat. Karena di pesantren-lah para santri diajarkan mandiri, mengabdi dengan setulus hati pada bangsa dan negeri ini. Beda halnya dengan organisasi non-pesantren, yang gampang disetir oleh sebuah kelompok lain demi suatu kepentingan terselubung.

Sebagaimana menurut KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya, Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974) Para santri adalah anak-anak rakyat, mereka jadi amat paham tentang arti kata rakyat. Paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat dan cita-citanya, suka-dukanya, tentang nasibnya , dan segala lika-liku hidup rakyat. Sebagai anak-anak dari rakyat, maka para santri lahir dari sana demikian mereka hidup lalu mati pun di sana pula. Belajar organisasi adalah proses mengenal jati dirinya, sebagai mahkluk sosial mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.  Maka, sudah sewajarnya berpartisipasi aktif dalam berbagai aktifitas di pesantren, agar kecanggungan pupus dalam menyikapi berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Tata kelola organisasi pesantren

Tidak cukup organisasi berjalan sewajarnya saja tanpa ada peningkatan nilai yang terkandungnya. Untuk memenuhi visi dan misi organisasi ada banyak hal metode yang harus dan bahkan wajib dimiliki bagi seseorang yang belajar organisasi, utamanya bagi leader (pemimpin) organisasi adalah suatu keharusan belajar manajemen (pengelolaan) dengan baik agar tercipta suatu organisasi yang terorganisir, disiplin dalam menjalankan tugasnya.

Lain lagi hal mengenai definisi tata kelola organisasi, secara umum dapat dikatakan bahwa tata kelola organisasi adalah suatu sistem atau cara maupun proses yang mengatur dan mengendalikan hubungan antara pihak manajemen (pengelola) dengan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap organisasi mengenai hak-hak dan kewajiban mereka, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan. Tata kelola organisasi ini mempunyai lima prinsip dasar yaitu sebagai berikut:

Pertama, Transparansi, yaitu keterbukaan dalam proses dan pengungkapan informasi, kinerja organisasi secara akurat. Ketika pengungkapan terbuka secara lebar dan faktual, maka organisasi akan menemukan titik esensi kelemahan dan kemajuan organisasi sendiri dalam mengawal anak bangsa. Jadi, sifat terbuka ini menjadi modal awal bagi kita demi mewujudkan organisasi yang progresif. Contoh kecilnya ketika ada problem konflik antar oknum orgnisasi, maka untuk menyelesaikan perkara tersebut harus pula dirembukkan bersama dicarikan solusinya agar terciptanya iklim yang tidak menghawatirkan kemudian mengakibatkan apatis berorganisasi.

Kedua, Independensi, yaitu kebebasan melaksanakan tugas dan kewenangan tanpa tekanan pihak lain. Ada banyak cara terkadang menghampiri daya fikir kita, untuk menghindar dari tanggung jawab yang telah diembankannya. Sebetulnya, tidak seperti demikian kebebasan yang patut diaplikasikan, tetapi adalah kebebasan dalam berkretifitas dalam menjalankan tugas yang sudah diamanahkan. Adakalanya memang perlu kebebasan dari diri kita sendiri, namun ketika memusyawarahkan terlebih dahulu hal itu maka akan lebih baik hasil yang akan kita capai, kunci dari segala tindakan itu yaitu tidak menyalahi aturan yang telah menjadi ketetapan.

Ketiga, Keadilan, yaitu Kesetaraan perlakuan terhadap para bawahan organisasi maupun atasan organisasi. Artinya keputusan ini tidak dapat langsung dilakukakan sewenang-wenangnya tetapi harus pula berpihak pada kebenaran. Kenyataan yang terjadi telah kita rasakan, bagaimana ketika pemimpin tidaka adil pada rakyatnya? pasti  segala hujatan, dan makin datang dari mana-mana. Akhirnya kesejahteraan bagi pihak mereka merasa tidak terpenuhi, resah merasa termaginalkan. Sama halnya dalam permainan sepak bola, jika sang wasit tidak bersikap adil dalam memberikan keputasan tunggulah balas dendam dari seporter mereka yang merasa ditipu di depan orang banyak. Organisasi juga demikian, ketika tidak ada perilaku adil di antara pengurus dan anggotanya akan menimbulkan problem setiap harinya.

Keempat, Akuntabilitas, yaitu pengelolaan organisasi sesuai dengan tugas dan kewenangan yang didasari itikad (kepercayaan) baik. Sebuah organisasi tidak selamanya melihat seberapa pandai kita menata konsep yang mapan, namun kerja keras lebih diutamakan dari yang lainnya. Oleh sebab itulah, kepercayaan harus ditanamkan dalam diri kita dan menyadari tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) atas keberadaan kita hidup di organisasi.

Kelima,Tanggung jawab, yaitu pertanggungjawaban kepada pihak berkepentingan (stakeholders) sesuai peraturan dan etika usaha yang berlaku dalam pesantren. Tanggung jawab merupakan hal signifikan dalam organisasi, agar tercapainya efisiensi pelayanan yang dapat meningkatkan kualitas beserta operasional oganisasi. Sikap ini mudah diucapkan tapi sukar dipraktikkan bukan?. Wallahu ‘A’lam...

 

Annuqayah, 31 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...