Oleh: Abdul Malik*
Senja
menguning kemerah-merahan di ufuk barat, angin semilir melambaikan daun pisang,
mencipta ketentraman alam kampung, lenguh sapi mengisaratkan kehausan serta
kelaparanya di dalam kandang. Sedang Kê Jumadin masih berada diatas
dahan mengiris mayang, lalu memerasnya perlahan. Segerombolan burung
beterbangan pulang ke sarang saat kelam sempurna dilangit kampung Banuaju-Barat,
Kê Jumadin pun mulai turun dari dahan dengan melilitkan slampar[1]
pada batang pohon siwalan. Setimba lahang dibawanya untuk istrinya. Mariyana tercinta,
Yang menunggu kedatangannya untuk di didihkan sementara waktu, menuggu esok
pagi kan dijadikan gula merah.
Bocah-bocah desa pun berjalan gontai
bersama-sama, menyusuri sepetak jalan menuju langgar milik Kiai Margula Khalil.
Kebiasaan orang-orang kampung Banuaju-Barat ujung timur Sumenep, dari sejak
dulu bagi anak TK, SD, yang masih seusia dini sudah diantar orang tuanya ke
langar Kiai Margula Khalil tujuannya utama upaya bisa belajar di sebuah langgar, agar terbiasa
membaca Al-Qur’an di usia dini, sehingga cepat mengerti makna sebuah kebersamaan.
“Allahuakbar..Allahuakbar...”
Adzan pun berkumandang menghiasi langit kampung, kelam tercipta di jantung
langit, dan rembulan masih belum mengumbar senyum dicakrawala.
Kiai Margula Khalil tampak berdiri memutar
tasbih di teras rumahnya, melihat para santri yang sedang membaca shalawat
nariyah, sambil mengawasi dari kejauhan terhadap anak-anak yang suka bercanda
gurau.
Allahumma
shalli shalatan kamilatau wasallim salaman,
Tamman
‘ala sayyidina muhammadinilladi,
Tanhallul
bihil ukodhu watam fariju bihil kurobu,
Watukdha
bihil hawaiju watuna lubihil raghaibu,
Wahusnul
khawatimi wayus tasqol ghamamu,
Biwaj
rihil karim wa’ala alihi,
Washahbihi
fi kulli lam hatiu wanafasimbi’adadi kulli ma’lumillak...
Kemudian, dengan seraya tersenyum ia memberikan
isyarat beriqamah kepada para santrinya untuk melaksanakan shalat magrib
berjama’ah.
Kiai Margula Khalil sosok kiai yang disegani
dan dihormati masyarakat, kehidupan setiap harinya selalu dibutuhkan para
tetangganya, di undang ngaji ke rumah-rumah masyarakat, sebagaimana tradisi
yang sudah mendarah daging dari nenek moyang kampung Banuaju-Barat, kebiasaanya
bila ada acara Slametan, Tahlilan, Mulang Are[2],
peringatan ini tidak terlepas dengan campur tangan Kiai Margula Khalil sebagai
kiai kampung.
Seusai shalat Magrib Kiai Margula Khalil mengajari
para santrinya mengaji Al-Qur’an, ia lalu berdauh disela-sela mengajar “Setinggi-tingginya
gelar yang kalian dapatkannya nanti, jika tidak tahu baca Al-Qur’an dengan
baik, hal itu sia-sia, perlu kalian belajar lagi. Semua ilmu memang penting,
Nak! Tapi masih ada yang lebih utama yaitu ilmu agama.” Nasehat itu sering dia
sampaikan pada santrinya. Sebelum semua santri pubar dan pulang ke rumah
masing-masing beliau berpesan “Pakorang ngakan, pakorang ajhar, munbadha
barung ambui.” ujarnya, seraya tersenyum dengan keramahan, para santri pun
mengangguk serempak penuh takdzim. Kiai Margula Khalil mengajak tidak hanya
belajar, tapi juga bertirakat. Mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.
***
Ayam telah berkokok diatas dahan pohon mangga,
jam bertik-tok menunjuk sepertiga malam, Kiai Margula Khalil telah bangun dan
selesai melaksanakan shalat malam, beliau membangunkan para santrinya supaya
shalat tahajjud. Pengorbanan yang cukup besar yang dilaluinya, hampir setiap
malam harus di bangunkan olehnya. Tapi ia tetap sabar dan ikhlas mengabdi
terhadap umat, hingga penghujung subuh ia bisa shalat berjama’ah bersama
santrinya.
Di Remang-remang tanah burung pun
bersahutan keriangan, sinar mentari merangkak dari bumi menyapu embun yang
hinggap direrumputan, di hempas kaki Mariyana yang berjalan gontai menuju pematang
sawah, ingin menyabit rumput untuk sepasang sapi piaraannya. Sedang Kê
Jumadin telah memeras mayang di dahan siwalan seraya bersiulan.
Ke Gula sapaan akrab masyarakat, ia
memang sosok yang sabar juga dikagumi, namun ia seakan tidak mencerminkan
seorang kiai. Hidupnya masih saja beternak ayam bersama istrinya, bertani bila
sampai pada waktunya. Hubungan terhadap masyarakat sangat erat sekali, bahkan
ia menyempatkan diri silaturrahim kepada tetangga yang tidak suka padanya, yang
sering membicarakan kepribadiannya di kampung yang permai dan asri.
Disebuah pagi yang dingin, ia duduk termenung
di serambi depan rumahnya, istrinya menyuguhkan secangkir kopi hitam yang masih
hangat, sebelum memulai aktifitas mengajar ke sekolah.
` Ketika jam 07.15 Wib. Itulah awal
waktu dia berangkat ke lembaga Madarasah Tsanawiyah Ghayatul Anwar, yang telah
bertahun-tahun lamanya dirinya mengabdi di lembaga itu tanpa pamrih.
Selain ia dikenal alim dalam membaca
Al-Qur’an, dia tidak membosankan bila mempelajari santri yang belajar
kepadanya. Ia juga termasuk pemimpin Kompolan Shalawat Nariyah, tepatnya
di desa Banuaju-Barat, jasanya berdarah-darah untuk memakmurkan masyarakat. sebelum
mulai bershalawat tugas tawasul sudah pasti Ke Gula memimpinnya.
***
Suatu malam sepulang dari kompolan,
ia masih menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Ahmad Shaleh, ulama
berdarah mesir itu. Menurut cerita masyarakat beliau memang asli keturunan Mesir
yang pernah bertapa di gua Gunung Pekol[3] kemudian
meninggal. Tidak biasanya dia berziarah ke makam Syekh Ahmad Shaleh kecuali
malam Jum’at legi, dingin menusuk-nusuk kulitnya, namun dia tetap bersih teguh
menerobos kegelapan malam.
Meskipun banyak orang-orang menjelek-jelekkan
dirinya, seakan-akan membakar hati dan telinga Ke Gula, ia hanya bisa bersabar
dalam berdakwah dan medirikan Kompolan Shalawat Nariyah. Dia tetap teguh
pendirian, bahkan dia pernah dikecam mendirikan Kompolan Gile (Sekelompok
orang gila). Lalu tidak berlangsung lama, dibalik nasib yang menimpanya Ke Gula
bisa mengadakan acara santunan anak yatim terhadap masyarakat dan melaksanakan
pengajian umum besar-besaran bersama jama’ah kompolan dam masyarakat, seusai
detik itulah banyak orang-orang mendukungnya, karena dapat dipercaya segala
tindakan yang diperbuat olehnya. Santri Kiai Margula Khalil semakin bertambah
banyak, langgar yang tanpak terkadang sepi dengan segelintir santri, sekarang
ramai dengan ayat-ayat suci. sebab telah menjadi kepercayaan banyak masyarakat.
Akhirnya, terbukti dengan banyaknya para tetangga yang rajin shalat berjama’ah
lima waktu di langgar Kiai Margula Khalil, pengorbanan beliau telah menyentuh
hati banyak orang di kampungnya, habis gelap terbitlah terang yang penuh dengan
kedamaian dan keasrian.(*)
Annuqayah, 08/10/2017
[1] Slampar adalah alat bantu seorang pemanjat pohon siwalan yang
dililitkan pada batangnya.
[2] Slametan, Tahlilan, Mulang Are adalah
suatu tradisi masyarakat ujung
timur Madura, yang berbau islami dan masih kental dilestarikan sampai saat ini.
[3] Sebutan masyarakat “Gunung Pêkol” senyatanya bukan gunung yang
berada di desa Banuaju-Timur Batang-Batang . tapi Bukit Pikul (Dalam artian bahasa
indonesia).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar