Selasa, 12 Agustus 2025

Langgar Kiai Margula Khalil

                                                                     Oleh: Abdul Malik*

            Senja menguning kemerah-merahan di ufuk barat, angin semilir melambaikan daun pisang, mencipta ketentraman alam kampung, lenguh sapi mengisaratkan kehausan serta kelaparanya di dalam kandang. Sedang Jumadin masih berada diatas dahan mengiris mayang, lalu memerasnya perlahan. Segerombolan burung beterbangan pulang ke sarang saat kelam sempurna dilangit kampung Banuaju-Barat, Jumadin pun mulai turun dari dahan dengan melilitkan slampar[1] pada batang pohon siwalan. Setimba lahang dibawanya untuk istrinya. Mariyana tercinta, Yang menunggu kedatangannya untuk di didihkan sementara waktu, menuggu esok pagi kan dijadikan gula merah.

            Bocah-bocah desa pun berjalan gontai bersama-sama, menyusuri sepetak jalan menuju langgar milik Kiai Margula Khalil. Kebiasaan orang-orang kampung Banuaju-Barat ujung timur Sumenep, dari sejak dulu bagi anak TK, SD, yang masih seusia dini sudah diantar orang tuanya ke langar Kiai Margula Khalil tujuannya utama upaya bisa  belajar di sebuah langgar, agar terbiasa membaca Al-Qur’an di usia dini, sehingga cepat mengerti makna sebuah kebersamaan.

            Allahuakbar..Allahuakbar...” Adzan pun berkumandang menghiasi langit kampung, kelam tercipta di jantung langit, dan rembulan masih belum mengumbar senyum dicakrawala.

Kiai Margula Khalil tampak berdiri memutar tasbih di teras rumahnya, melihat para santri yang sedang membaca shalawat nariyah, sambil mengawasi dari kejauhan terhadap anak-anak yang suka bercanda gurau.

Allahumma shalli shalatan kamilatau wasallim salaman,

Tamman ‘ala sayyidina muhammadinilladi,

Tanhallul bihil ukodhu watam fariju bihil kurobu,

Watukdha bihil hawaiju watuna lubihil raghaibu,

Wahusnul khawatimi wayus tasqol ghamamu,

Biwaj rihil karim wa’ala alihi,

Washahbihi fi kulli lam hatiu wanafasimbi’adadi kulli ma’lumillak...

 

Kemudian, dengan seraya tersenyum ia memberikan isyarat beriqamah kepada para santrinya untuk melaksanakan shalat magrib berjama’ah.

Kiai Margula Khalil sosok kiai yang disegani dan dihormati masyarakat, kehidupan setiap harinya selalu dibutuhkan para tetangganya, di undang ngaji ke rumah-rumah masyarakat, sebagaimana tradisi yang sudah mendarah daging dari nenek moyang kampung Banuaju-Barat, kebiasaanya bila ada acara Slametan, Tahlilan, Mulang Are[2], peringatan ini tidak terlepas dengan campur tangan Kiai Margula Khalil sebagai kiai kampung.

Seusai shalat Magrib Kiai Margula Khalil mengajari para santrinya mengaji Al-Qur’an, ia lalu berdauh disela-sela mengajar “Setinggi-tingginya gelar yang kalian dapatkannya nanti, jika tidak tahu baca Al-Qur’an dengan baik, hal itu sia-sia, perlu kalian belajar lagi. Semua ilmu memang penting, Nak! Tapi masih ada yang lebih utama yaitu ilmu agama.” Nasehat itu sering dia sampaikan pada santrinya. Sebelum semua santri pubar dan pulang ke rumah masing-masing beliau berpesan “Pakorang ngakan, pakorang ajhar, munbadha barung ambui.” ujarnya, seraya tersenyum dengan keramahan, para santri pun mengangguk serempak penuh takdzim. Kiai Margula Khalil mengajak tidak hanya belajar, tapi juga bertirakat. Mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.

***

Ayam telah berkokok diatas dahan pohon mangga, jam bertik-tok menunjuk sepertiga malam, Kiai Margula Khalil telah bangun dan selesai melaksanakan shalat malam, beliau membangunkan para santrinya supaya shalat tahajjud. Pengorbanan yang cukup besar yang dilaluinya, hampir setiap malam harus di bangunkan olehnya. Tapi ia tetap sabar dan ikhlas mengabdi terhadap umat, hingga penghujung subuh ia bisa shalat berjama’ah bersama santrinya.

            Di Remang-remang tanah burung pun bersahutan keriangan, sinar mentari merangkak dari bumi menyapu embun yang hinggap direrumputan, di hempas kaki Mariyana yang berjalan gontai menuju pematang sawah, ingin menyabit rumput untuk sepasang sapi piaraannya. Sedang Jumadin telah memeras mayang di dahan siwalan seraya bersiulan.

            Ke Gula sapaan akrab masyarakat, ia memang sosok yang sabar juga dikagumi, namun ia seakan tidak mencerminkan seorang kiai. Hidupnya masih saja beternak ayam bersama istrinya, bertani bila sampai pada waktunya. Hubungan terhadap masyarakat sangat erat sekali, bahkan ia menyempatkan diri silaturrahim kepada tetangga yang tidak suka padanya, yang sering membicarakan kepribadiannya di kampung yang permai dan asri.

            Disebuah pagi yang dingin, ia duduk termenung di serambi depan rumahnya, istrinya menyuguhkan secangkir kopi hitam yang masih hangat, sebelum memulai aktifitas mengajar ke sekolah.

`           Ketika jam 07.15 Wib. Itulah awal waktu dia berangkat ke lembaga Madarasah Tsanawiyah Ghayatul Anwar, yang telah bertahun-tahun lamanya dirinya mengabdi di lembaga itu tanpa pamrih.

            Selain ia dikenal alim dalam membaca Al-Qur’an, dia tidak membosankan bila mempelajari santri yang belajar kepadanya. Ia juga termasuk pemimpin Kompolan Shalawat Nariyah, tepatnya di desa Banuaju-Barat, jasanya berdarah-darah untuk memakmurkan masyarakat. sebelum mulai bershalawat tugas tawasul sudah pasti Ke Gula memimpinnya.

***

            Suatu malam sepulang dari kompolan, ia masih menyempatkan diri berziarah ke makam Syekh Ahmad Shaleh, ulama berdarah mesir itu. Menurut cerita masyarakat beliau memang asli keturunan Mesir yang pernah bertapa di gua Gunung Pekol[3] kemudian meninggal. Tidak biasanya dia berziarah ke makam Syekh Ahmad Shaleh kecuali malam Jum’at legi, dingin menusuk-nusuk kulitnya, namun dia tetap bersih teguh menerobos kegelapan malam.

Meskipun banyak orang-orang menjelek-jelekkan dirinya, seakan-akan membakar hati dan telinga Ke Gula, ia hanya bisa bersabar dalam berdakwah dan medirikan Kompolan Shalawat Nariyah. Dia tetap teguh pendirian, bahkan dia pernah dikecam mendirikan Kompolan Gile (Sekelompok orang gila). Lalu tidak berlangsung lama, dibalik nasib yang menimpanya Ke Gula bisa mengadakan acara santunan anak yatim terhadap masyarakat dan melaksanakan pengajian umum besar-besaran bersama jama’ah kompolan dam masyarakat, seusai detik itulah banyak orang-orang mendukungnya, karena dapat dipercaya segala tindakan yang diperbuat olehnya. Santri Kiai Margula Khalil semakin bertambah banyak, langgar yang tanpak terkadang sepi dengan segelintir santri, sekarang ramai dengan ayat-ayat suci. sebab telah menjadi kepercayaan banyak masyarakat. Akhirnya, terbukti dengan banyaknya para tetangga yang rajin shalat berjama’ah lima waktu di langgar Kiai Margula Khalil, pengorbanan beliau telah menyentuh hati banyak orang di kampungnya, habis gelap terbitlah terang yang penuh dengan kedamaian dan keasrian.(*)


Annuqayah, 08/10/2017


[1] Slampar adalah alat bantu seorang pemanjat pohon siwalan yang dililitkan pada batangnya.

[2] Slametan, Tahlilan, Mulang Are adalah  suatu tradisi masyarakat ujung timur Madura, yang berbau islami dan masih kental dilestarikan sampai saat ini.

[3] Sebutan masyarakat “Gunung Pêkol” senyatanya bukan gunung yang berada di desa Banuaju-Timur Batang-Batang . tapi Bukit Pikul (Dalam artian bahasa indonesia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...