Selasa, 12 Agustus 2025

Cahaya Tuhan dalam Mimpi Muzakki

  “Bagi santriku, berjama’ahlah dengan istiqomah, selama empat puluh hari kalian berjama’ah dan berjama’ah setiap waktu. Maka kalian termasuk orang yang beruntung sebagai santri”

 

            Muzakki terkejut mendengar Kiai Zubairi Marzuki menyampaikan dauh KH. A. Warits Ilyas (Almarhum) di ruang kelasnya. Selama satu  tahun  setengah , dia belum pernah  mendengar dauh guru Kiainya itu. Konon, dia yang pernah memerintah mendirikan pondok pesanteren, ketika ingin boyong ke tanah kelahirannya. Muzakki hanya berjama’ah jarang-jarang sekali, kecuali program wajib Pesantren yang di ikutinya. Yaitu Maghrib, Isya’ dan Shubuh, ketika Dhuhur dan Asar kadang-kadang saja berhadiran  (berjama’ah), terkadang payah, ngantuk, menanak  dan segala macam alasan bagi dirinya.

            Siang sempurna, terik matahari bagaikan paku  menancap ubun kepala Muzakki yang sedang berjalan gontai menuju bilik pondok. Kemudian ia mengganti baju dan celana, dengan seragam hadiran.”Mulai sejak hari ini aku akan  mencoba berjama’ah dengan  istiqamah sampai empat puluh satu hari.” niatnya dalam hati. Muzakki berjalan dengan yakin menuju masjid, mengambil wudhu’ di kamar mandi sebelah utara masjid. Perkataan Kiai Muzakki melekat dalam sanubarinya, ketika mengulang kitab ”Ta’lim Al-Muta’allim” di kelasnya.

 

“Lailahaillallah almalikul hakkul mubin muhammadur rasulullah shadhikul wa’dil amin....”

 

Suara zikir mengalun merdu, Muzakki menunggu Kiai rabhu di dalam masjid. tik tok jam menunjukkan tinggal tiga menit lagi Kiai Zubairi Marzuki biasanya akan segera rabhu.

“Kring........”

            Dering bel bertanda Kiai telah rabhu, semua santri di dalam masjid berdiri memberikan jalan, serta memberikan tanda takdzim kepada beliau dengan serempak.

***

Ternyata tidak semudah yang di pikirkan, mengikuti jejak Kiai kharismatik yang ia cintai. Setelah membaca tamat buku yang di pinjamkan Khairil Fatah tentang perjalanan KH. A. Warits Ilyas, beliau merupakan Kiai yang istiqamah dalam berjama’ah. Ia merupakan Tokoh yang di segani oleh masyarakat. ”Al-Istiqomatu ‘Ainul Karomah” suatu hadits mencerminkan kekonsistenannya, dan suatu kelebihan yang jarang dimiliki oleh banyak orang, hadits itu pula menjadi sorotan beliau menganjurkan selalu berjama’ah pada santrinya. Begitulah setelah Muzakki membaca perjalanan Kiai yang ia kagumi. Guru dari Kiai Zubairi Marzuki selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin.

Seperti cerita dalam bukunya yang ia tidak bisa lupakan, ketika salah satu wali santri meminta amalan khusus terhadap beliau. Dauhnya. “Iya, shalat berjama’ah” Karena di shalat jama’ah ini, menurut Sang Kiai disitu banyak hikmah ketika memanjatkan doa dan nantinya akan diamini akan santrinya, ikatan doa ini cukup penting  sebagai ikatan batin antara Guru dan Murid, serta kerja sama untuk memohon kepada Tuhan. Ada banyak cerita yang ia ingat namun cerita itu paling melekat dalam kalbunya. Semangatnya berkobar-kobar, tiada harap dalam hatinya selain ingin mengabdi, mengejar barokah di Pondok Pesantren.

Begitu payahnya untuk sampai tujuh belas hari saja, setelah ia termenung sendiri. ia takut gagal di tengah jalan. Demikian, tiba-tiba di pagi remang-remang tanah, ada panggilan dari posko kunjungan.”Panggilan  saudara Muzakki di Blok B/34 di kunjungi keluarganya.” panggilan terdengar dua kali. tidak biasa, ia sebelum berangkat ke sekolah di kunjungi, mengetuk seribu tanya dalam hatinya. akhirnya ia bersiap-siap pergi ke posko. ternyata benar, pamannya sedang berdiri di depan posko.

Assalamu’alaikum..” sapaku pada paman.

Waalaikum Salam…”

Ada apa, Paman?”

“Aku kesini di perintah bapakmu untuk mepamitkanmu

“Apa yang terjadi di rumah paman?”

“Nenekmu telah meninggal tadi malam”

Innalillahi Wainnalillaihi Rojiun aku pun terkejut mendengarnya.

Lemas sekujur tubuhnya mendengar perkataan pamannya itu, bagaikan petir menyambar dada, ia melangkah menuju kantor untuk pamit, pihak kantor pun memberi waktu tiga hari.

Di pagi hari yang cerah banyak teman-temannya bersekolah, sedang ia pulang ke kampung halaman menuju harap keluarga. Sepanjang perjalanan pikirannya berkecamuk membuat pening seketika, di lain sisi ia kehilangan nenek di cintainya di tambah dengan niat tulus untuk berjama’ah bersama Kiai. sudah tidak ada harapan lagi kecuali mengulang kembali  dari pertama. Kemudian sebelum sampai menuju rumahnya, Muzakki menghapus airmata yang tidak bisa di bendung selama perjalanan. Sesampai di halaman rumahnya ibunya pun tersedu-sedu, orang-orang menyambut dengan riuhnya isak tangis . Airmatanya semakin deras setelah membaca Surat Yasin. tangannya gemetar suaranya kelu. ia hanya bisa menatap terakhir neneknya yang sudah di tertutupi selimut batik. Sungguh, hakikat kehidupan adalah kematiah, hakikat kematian adalah kehidupan. Muzakki hanya bisa iklas atas semuanya.

Setelah adzan Dhuhur berkumandang nenek Muzakki di shalatkan di masjid sebelah. lalu di kuburkan berdampingan dengan kakek Muzakki yang meninggal tiga tahun silam.

Setiap malam di rumah Muzakki ramai oleh banyak orang-orang. Tepat setelah shalat Isya’ orang berbondong-bondong menyumbangkan doa atau tahlil. Namun hanya tiga malam Muzakki dapat menikmati suasana duka keluarganya.

***

Siang bertandang ia menyiapkan barang-barang untuk kembali ke Pesantren, demi ketundukan terhadap peraturan, walaupun rindu belum tuntas di kampungnya yang permai. ketika jam menunjuk angka 03:12 WIB menjelang sore, ia pun berangkat bersama pamannya.

.Senja menyingsing membentang di ufuk barat, setengah jam yang lalu Muzakki telah sampai. Lagu Qira’ah mengalun syahdu daun-daun hening, angin semilir lenyap senyap. di depan biliknya ia hanya bisa duduk terpaku menyaksikan indahnya langit sebelum kelam tiba. Sekantong plastik nasi yang ia bawa sedang di makan teman sekamarnya. Saling jamah berebutan ikan dalam satu nampan dengan gembira.

***

            Keesoakan harinya, Muzakki kembali berjama’ah meneruskan niat yang terpahat. Semangatnya  tetap teguh tidak tergoyahkanakan kegagalannya.

Sesudah sampai lima hari, kegagalan kembali datang menghampirinya. Sebab kala ingin shalat shubuh. ia tidak tahu harus bagaimana. Ingin marah tapi tidak tahu harus pada siapa harus marah? perlahan ia sadar atas ikhtiar yang di perjuangkan.“Barangkali aku terlalu banyak dosa.” gumamnya.  Lalu ia bangkit memilih seorang diri berziarah ke Maqbaroh sesepuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, ia merasa hatinya belum benar-benar bening masih ternoktah hitam penghalang jalan menuju keridhaan Tuhan. Kicau burung belum begitu ramai . Ia duduk penuh harap membaca surat Yasin, selepas doa.

“Ya Allah…berikanlah aku petunjuk pada hambamu ini,  lindungan dari marah bahaya. serta ampunilah segala dosa-dosa berikanlah aku kemudahan menuju jalan yang terbaik yang di Ridhai-Mu”

Semburat sinar menembus rerimbun pohon. Ayam telah bertengger berkeliaran, hari kegagalan sekaligus hari awal untuk mengulangi niatnya. Tidak ada yang bisa di andalkan baginya membaca Kitab pun dangkal pengetahuannya. Ia merasa Sungguh bodoh, malu ketika dirinya di tunjuk di sekolahnya oleh Kiai Zubairi Marzuki untuk membaca Kitab gundul (Kitab Kuning), semua teman kelasnya melihat padanya. apalagi selain melaksanakan keistimewaan Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin.yaitu berjama’ah dengan istiqomah.

Siang membentang begitu teriknya. lorong-lorong mencipta fatamorgana. daun-daun layu dalam pandang. Muzakki pulang dari sekolah, buku dan Kitab di dekapnya. Sesampainya di kamarnya meletakkan buku diatas lemari, mengganti seragam sekolahnya. kemudian berangkat menuju masjid. ia mulai pandai mengatur waktu sebagaimana pepatah arab ”Waktu bagaikan pedang.” tak ingin dirinya lagi terpuruk pada waktu yang hanya sia-sia dan mengecewakan. Setelah zikir mendayu-dayu ia mengambil wudhu’ di kamar mandi takmir mesjid.

“Kring….kring…”  bunyi bel berdering dua kali bertanda Kiai Zubairi Marzuki tidak ada.

Iqomah terlantun dengan merdu dari speaker dinding masjid, Salah satu pengurus menggantinya sebagai imam shalat berjama’ah.

                                                            ***

Tiada sangka hari terhitung empat puluh hari Muzakki merasa tidak sanggup membayangkan satu hari lagi sudah selesai niatnya. hatinya berdebar bila membayang sendiri.“Tuhan berilah aku kemudahan melewati perjanan ini ”ucapnya. disela duduk menyendiri.

Malam terakhir, seusai shalat jama’ah magrib kepalanya pun pening kembali, seluruh tubuhnya lemas. seribu tanya menganjal , apakah ini cobaan Tuhan?. Sebenarnya ia sudah mau ke  kamarnya. namun ia masih kuat bertahan shalat isya’. tetapi sebelum semua santri keluar ia lebih dulu pamit pada pengurus seksi PK (Peribadatan dan Ketertiban) untuk istirahat di kamarnya.

Demikianlah Muzakki selalu tersiksa. tubuhnya hanya bisa terbaring di atas lantai kamarnya sendiri. kekhawatiran mengganjal, tinggal satu shalat subuh masih tak di lewatkan, sebelum memejamkan mata pikirannya beterbangan, tubuhnya menggigil, tiba-tiba semraut wajah Ayah dan Ibunya tampak dan wajah Kiai Zubairi Marzuki, KH. A Warits Ilyas menyelinap. harapan terpatri semoga ketika Shubuh bertandang ia dapat melaksanakan kewajiban.

Sepertiga malam Qiro’ah bersipongang, Muzakki langsung terkejut bangun. sedang tubuhnya semakin membaik tapi kepalanya tetap pusing. Disampingnya Khairil Fatah salah satu teman karibnya di bangunkan, berkat bantuan temannya itu ia bisa sampai ke masjid. mengambil wudhu’ lebih dulu dan bisa beriktikaf dalam mesjid sampai iqomah Subuh tiba. Sungguh sangat berbunga-bunga hatinya ketika selesai shalat Subuh. Yang sedari tadi malam sakit kepala sudah mulai nyaman, kebiasaan sesudah shalat ia duduk di tangga depan serambi masjid bagian depan. menikmati suasana pagi dengan bahagia yang tiada tara. Matahari memancarkan sinar dengan tersenyum dari timur menyiratkan kebahagiaan kepadanya.

***

            Suatu malam, malam ketiga seusai bermimpi jam menunjukkan 22.20 Wib, masih tidak terlalu malam. Namun Muzakki tidur pulas dalam kamarnya. ketika dini hari  tiba-tiba ia bermimpi

            Ada sinar terang benderang di suatu koridor, pelan-pelan Muzakki menghampiri sinar itu. ada sosok K.H A. Warits Ilyas berjalan didepannya sambil mendekap kitab.

            “Assalamualaikum” sapa muzakki meyakinkannya.

            “Waalaikum salam” jawabnya seraya tersenyum padanya, Muzakki diam seribu bahasa ia tidak bisa lagi melanjutkan pembicaraan, gemetar kedua tangannya, setelah itu benar K.H A. Warits Ilyas di depannya.

            “Kebetulan kamu ada disini nak, ini kitab kamu baca! ia menyodorkan kitab kepada Muzakki.

            “Iya, Kiai,” jawabnya, Kiai kemudian pergi, “Sampean mau kemana kiai? Kiai..Kiai..teriakku.

            Muzakki terbangun, ternyata itu hanya mimpi belaka kitab di pegangnya tidak ada. tapi ia yakin betul itu kiai yang dicintainya “Subhanallah” serunya. ia tidak mengerti maksud mimpinya. Kemudian ia pun pergi ke kamar mandi mengambil wudhu’ untuk shalat tahajjud, di atas sajadah ia pun berzikir seraya menunggu Subuh, meminta kemudahan kepada Allah Swt. Semoga mimpi itu menjadi tanda kebaikan untuk masa depannya.

            Tepat hari esoknya setelah bermimpi, selepas turun dari mesjid di penghujung Subuh salah satu pengurus memanggilnya bahwa Kiai Zubairi Marzuki membutuhkannya di dhalem ia terkejut karena selama mondok tidak pernah di panggil oleh kiai ke dhalemnya. dengan getir yang memburu, Muzakki melangkah menuju kediamannya Kiai Zubairi Marzuki di luar halaman hatinya pun berdebar-debar.

            “Assalamualaikum” dari halaman rumah Muzakki mengucapkan salam

            “Waalaikum salam” jawab Kiai Zubairi Marzuki dari beranda rumahnya, ia bangkit dari tempat duduk “Silakan masuk.” imbuhnya, seraya mempersilahkan Muzakki duduk.

            “Anda saudara muzakki?” tiba-tiba beliau memulai percakapan

            “Iya, Kiai” jawabku spontan

            Begini, kebetulan Madrasah Diniyah Baramij At-Tarbiyah Wata’lim tidak ada yang mau mengajar kitab Irsyadul Ibad. Sebab gurunya telah berhenti, saya minta pada saudara untuk menjadi pengampunya.” perintah Kiai Zubairi Marzuki tiba-tiba.

            “Bukannya saya menolaknya kiai. bukankah masih banyak yang lebih tahu dari pada saya?” jawabnya spontan.

            “Sudah terima saja, saya percaya pada saudara.

            “Iya. Kiai.” jawabku seraya menundukkan badan dan kepala.

            “Nanti pengurus akan segera memberi tahu saudara, paling lambat dalam satu minggu ini. Saudara akan menirima jadwalnya”

            “Kalau begitu saya mohon diri, Kiai ucapku. seraya mencium tangan Kiai Zubairi Marzuki.

            “Iya, silakan. muthala’ah kitabnya. pesannya sebelum ia pergi.

            Ini sungguh memalukan baginya, padahal sudah tahu ia tidak bisa baca kitab waktu Kiai sendiri menyuruh membaca kitab di dalam kelas. hatinya sedikit kesal sepanjang perjalanan menuju pondoknya

            Demi ketundukan terhadap perintahnya seusai shalat Isya’. Ia mengulang kitab yang pernah ia  pelajari sewaktu dikelasnya. lamat-lamat terus dibaca sejauh pengetahuan Muzakki apa bila tidak tahu, ia mencari dalam kamus Al-Munawwir, kurang lebih satu jam ia duduk menyendiri dalam kamarnya. kemudian ada yamg berubah dalam hatinya seakan ada cahaya penerang seperti bayangan mimpi di waktu malam, cahaya terang benderang seperti saat bertemu dengan KH. Warits Ilyas beberapa menit pun menghilang. Muzakki kembali membaca kitabnya sejauh yang ia tahu. Tiada sangka makna kitab Turats yang tidak diketahuinya itu, ia tahu begitu saja serupa ada ilham hinggap dalam hatinya. ia terus tidak percaya. Apakah ini yang di sebut ilmu ladunni menurut Kiai saat aku belajar kitab padanya? Apakah aku sedang bermimpi?. Sampai ia mencoba berjalan dan berkaca-kaca. tidak! aku tidak bermimpi.” Katanya. Sejenak ia berpikir, mungkinkah ini barokah dari shalat berjamaah?.

                                    Annuqayah 08 April 2017 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Puasa dari Lapar, Tapi Tidak dari Scroll

Bulan Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Masjid menjadi lebih ramai, suara tadarus Al-Qur’an terdengar hampir di setiap sud...