“Bagi santriku, berjama’ahlah dengan istiqomah, selama empat puluh hari kalian berjama’ah dan berjama’ah setiap waktu. Maka kalian termasuk orang yang beruntung sebagai santri”
Muzakki
terkejut mendengar Kiai Zubairi Marzuki menyampaikan dauh KH. A. Warits Ilyas (Almarhum)
di ruang kelasnya. Selama satu tahun setengah , dia belum
pernah mendengar dauh guru Kiainya itu. Konon, dia yang pernah
memerintah mendirikan
pondok pesanteren,
ketika ingin boyong ke tanah kelahirannya. Muzakki hanya berjama’ah
jarang-jarang sekali, kecuali program wajib Pesantren yang di ikutinya. Yaitu Maghrib,
Isya’ dan Shubuh, ketika Dhuhur dan Asar kadang-kadang saja berhadiran (berjama’ah), terkadang payah, ngantuk,
menanak dan segala macam alasan bagi
dirinya.
Siang
sempurna, terik matahari bagaikan paku menancap ubun kepala Muzakki yang sedang
berjalan gontai menuju bilik pondok. Kemudian ia mengganti baju dan celana, dengan
seragam hadiran.”Mulai sejak hari ini aku akan mencoba berjama’ah dengan istiqamah sampai empat puluh satu hari.” niatnya dalam
hati.
Muzakki berjalan dengan yakin menuju masjid, mengambil wudhu’ di kamar mandi
sebelah utara masjid. Perkataan Kiai Muzakki melekat dalam sanubarinya, ketika
mengulang kitab ”Ta’lim Al-Muta’allim” di kelasnya.
“Lailahaillallah
almalikul hakkul mubin muhammadur rasulullah shadhikul wa’dil amin....”
Suara
zikir mengalun merdu, Muzakki menunggu Kiai rabhu di dalam masjid. tik
tok jam menunjukkan tinggal tiga menit lagi Kiai Zubairi Marzuki biasanya akan
segera rabhu.
“Kring........”
Dering
bel bertanda Kiai telah rabhu, semua santri di dalam masjid berdiri
memberikan jalan, serta memberikan tanda takdzim kepada beliau dengan serempak.
***
Ternyata
tidak semudah yang di pikirkan, mengikuti jejak Kiai kharismatik yang ia
cintai. Setelah membaca tamat buku yang di pinjamkan Khairil Fatah tentang
perjalanan KH. A. Warits Ilyas, beliau merupakan Kiai yang istiqamah dalam
berjama’ah. Ia merupakan Tokoh yang di segani oleh masyarakat. ”Al-Istiqomatu
‘Ainul Karomah” suatu hadits mencerminkan kekonsistenannya, dan suatu
kelebihan yang jarang dimiliki oleh banyak orang, hadits itu pula menjadi
sorotan beliau menganjurkan selalu berjama’ah pada santrinya. Begitulah setelah
Muzakki membaca perjalanan Kiai yang ia kagumi. Guru dari Kiai Zubairi Marzuki
selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin.
Seperti cerita dalam bukunya yang ia tidak
bisa lupakan, ketika salah satu wali santri meminta amalan khusus terhadap
beliau. Dauhnya. “Iya, shalat berjama’ah” Karena di shalat jama’ah ini, menurut
Sang Kiai disitu banyak hikmah ketika memanjatkan doa dan nantinya akan diamini
akan santrinya, ikatan doa ini cukup penting
sebagai ikatan batin antara Guru dan Murid, serta kerja sama untuk
memohon kepada Tuhan. Ada banyak cerita yang ia ingat namun cerita itu paling
melekat dalam kalbunya. Semangatnya berkobar-kobar, tiada harap dalam hatinya selain
ingin mengabdi, mengejar barokah di Pondok Pesantren.
Begitu
payahnya untuk sampai tujuh belas hari saja, setelah ia termenung sendiri. ia
takut gagal di tengah jalan. Demikian, tiba-tiba di pagi remang-remang tanah,
ada panggilan dari posko kunjungan.”Panggilan saudara Muzakki di Blok B/34 di kunjungi
keluarganya.” panggilan terdengar dua kali. tidak biasa, ia sebelum berangkat
ke sekolah di kunjungi, mengetuk seribu tanya dalam hatinya. akhirnya ia bersiap-siap
pergi ke posko. ternyata benar, pamannya sedang berdiri di depan posko.
“Assalamu’alaikum..” sapaku pada paman.
“Waalaikum Salam…”
“Ada
apa, Paman?”
“Aku kesini di perintah bapakmu untuk mepamitkanmu”
“Apa yang terjadi di rumah paman?”
“Nenekmu telah meninggal tadi malam”
“Innalillahi Wainnalillaihi Rojiun” aku pun terkejut mendengarnya.
Lemas sekujur tubuhnya mendengar perkataan pamannya itu, bagaikan petir menyambar dada, ia melangkah menuju kantor untuk pamit, pihak kantor pun memberi waktu tiga hari.
Di pagi hari yang cerah banyak teman-temannya bersekolah,
sedang ia pulang ke kampung halaman menuju harap keluarga. Sepanjang perjalanan pikirannya
berkecamuk membuat pening seketika, di lain sisi ia kehilangan nenek di
cintainya di tambah dengan niat tulus untuk berjama’ah bersama Kiai. sudah
tidak ada harapan lagi kecuali mengulang kembali dari pertama. Kemudian sebelum sampai menuju rumahnya,
Muzakki menghapus airmata yang tidak bisa di bendung selama perjalanan. Sesampai
di halaman rumahnya ibunya pun tersedu-sedu, orang-orang menyambut dengan
riuhnya isak tangis . Airmatanya semakin deras setelah membaca Surat Yasin. tangannya
gemetar suaranya kelu. ia hanya bisa menatap terakhir neneknya yang sudah di tertutupi selimut
batik. Sungguh, hakikat kehidupan adalah kematiah, hakikat kematian adalah
kehidupan. Muzakki hanya bisa iklas atas semuanya.
Setelah adzan Dhuhur berkumandang nenek Muzakki di
shalatkan di masjid sebelah. lalu di
kuburkan berdampingan dengan kakek Muzakki yang meninggal tiga tahun silam.
Setiap
malam di rumah Muzakki ramai oleh banyak orang-orang. Tepat setelah shalat Isya’
orang berbondong-bondong menyumbangkan doa atau tahlil. Namun hanya tiga malam Muzakki dapat
menikmati suasana duka keluarganya.
***
Siang bertandang ia menyiapkan barang-barang untuk
kembali ke Pesantren, demi ketundukan terhadap peraturan, walaupun rindu
belum tuntas di kampungnya yang permai. ketika jam menunjuk angka 03:12 WIB menjelang sore, ia pun berangkat
bersama pamannya.
.Senja menyingsing membentang di ufuk barat, setengah
jam yang lalu Muzakki telah sampai. Lagu Qira’ah mengalun syahdu daun-daun hening, angin semilir
lenyap senyap. di depan biliknya ia hanya bisa duduk terpaku menyaksikan indahnya langit
sebelum kelam tiba.
Sekantong plastik nasi yang ia bawa sedang di makan teman sekamarnya. Saling jamah
berebutan ikan dalam satu nampan dengan gembira.
***
Keesoakan
harinya, Muzakki kembali berjama’ah meneruskan niat yang terpahat. Semangatnya tetap teguh tidak tergoyahkanakan kegagalannya.
Sesudah sampai lima hari, kegagalan kembali
datang menghampirinya. Sebab kala ingin shalat shubuh. ia tidak tahu harus
bagaimana. Ingin marah tapi tidak tahu harus pada siapa harus marah? perlahan
ia sadar atas ikhtiar yang di perjuangkan.“Barangkali aku terlalu banyak dosa.”
gumamnya. Lalu ia bangkit memilih
seorang diri berziarah ke Maqbaroh sesepuh Pondok Pesantren Nasy’atul
Muta’allimin, ia merasa hatinya belum benar-benar bening masih ternoktah hitam
penghalang jalan menuju keridhaan Tuhan. Kicau burung belum begitu ramai . Ia duduk
penuh harap membaca surat Yasin, selepas doa.
“Ya
Allah…berikanlah aku petunjuk pada hambamu ini,
lindungan dari marah bahaya. serta ampunilah segala dosa-dosa berikanlah
aku kemudahan menuju jalan yang terbaik yang di Ridhai-Mu”
Semburat
sinar menembus rerimbun pohon. Ayam telah bertengger berkeliaran, hari kegagalan sekaligus hari awal
untuk mengulangi niatnya. Tidak ada yang bisa di andalkan baginya membaca Kitab
pun dangkal pengetahuannya. Ia merasa Sungguh bodoh, malu ketika dirinya di
tunjuk di sekolahnya oleh Kiai Zubairi Marzuki untuk membaca Kitab gundul
(Kitab Kuning), semua teman kelasnya melihat padanya. apalagi selain melaksanakan
keistimewaan Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin.yaitu berjama’ah dengan
istiqomah.
Siang membentang
begitu teriknya. lorong-lorong mencipta fatamorgana. daun-daun layu dalam
pandang. Muzakki pulang dari sekolah, buku dan Kitab di dekapnya. Sesampainya
di kamarnya meletakkan buku diatas lemari, mengganti seragam sekolahnya.
kemudian berangkat menuju masjid. ia mulai pandai mengatur waktu sebagaimana
pepatah arab ”Waktu bagaikan pedang.” tak ingin dirinya lagi terpuruk
pada waktu yang hanya sia-sia dan mengecewakan. Setelah zikir mendayu-dayu ia
mengambil wudhu’ di
kamar mandi takmir mesjid.
“Kring….kring…”
bunyi bel berdering dua kali bertanda Kiai Zubairi Marzuki tidak ada.
Iqomah terlantun dengan merdu dari speaker dinding
masjid,
Salah satu pengurus menggantinya sebagai imam shalat berjama’ah.
***
Tiada
sangka hari terhitung empat puluh hari Muzakki merasa tidak
sanggup membayangkan satu hari lagi sudah selesai niatnya. hatinya berdebar
bila membayang sendiri.“Tuhan berilah aku kemudahan melewati perjanan ini ”ucapnya. disela duduk
menyendiri.
Malam terakhir, seusai shalat jama’ah magrib kepalanya pun pening kembali, seluruh
tubuhnya lemas. seribu tanya menganjal , apakah ini cobaan Tuhan?. Sebenarnya ia
sudah mau ke
kamarnya. namun
ia masih kuat
bertahan shalat isya’. tetapi sebelum semua santri keluar ia
lebih dulu pamit
pada pengurus
seksi PK (Peribadatan dan Ketertiban) untuk istirahat di kamarnya.
Demikianlah Muzakki selalu tersiksa. tubuhnya hanya bisa terbaring di atas lantai kamarnya sendiri. kekhawatiran mengganjal, tinggal satu
shalat subuh masih tak di lewatkan, sebelum memejamkan mata pikirannya beterbangan,
tubuhnya menggigil, tiba-tiba semraut wajah Ayah dan Ibunya tampak dan wajah Kiai
Zubairi
Marzuki, KH. A Warits Ilyas menyelinap. harapan
terpatri semoga ketika Shubuh bertandang ia dapat melaksanakan kewajiban.
Sepertiga
malam Qiro’ah bersipongang, Muzakki langsung
terkejut bangun.
sedang tubuhnya semakin membaik tapi kepalanya tetap pusing.
Disampingnya
Khairil Fatah salah satu teman karibnya di bangunkan, berkat bantuan
temannya itu
ia bisa sampai ke masjid. mengambil wudhu’ lebih dulu dan bisa beriktikaf dalam mesjid sampai
iqomah Subuh tiba. Sungguh sangat
berbunga-bunga hatinya ketika selesai shalat Subuh. Yang sedari tadi malam
sakit kepala sudah mulai
nyaman, kebiasaan sesudah shalat ia duduk di tangga depan serambi masjid bagian
depan. menikmati suasana pagi dengan bahagia yang tiada tara. Matahari memancarkan sinar dengan
tersenyum dari timur menyiratkan kebahagiaan kepadanya.
***
Suatu
malam, malam ketiga seusai bermimpi jam menunjukkan 22.20 Wib, masih tidak
terlalu malam. Namun Muzakki tidur pulas dalam kamarnya. ketika dini hari
tiba-tiba ia bermimpi
Ada sinar
terang benderang di suatu koridor, pelan-pelan Muzakki menghampiri sinar itu.
ada sosok K.H A. Warits Ilyas berjalan didepannya sambil mendekap kitab.
“Assalamualaikum” sapa
muzakki meyakinkannya.
“Waalaikum salam” jawabnya seraya
tersenyum padanya, Muzakki diam seribu bahasa ia tidak bisa lagi melanjutkan
pembicaraan,
gemetar kedua tangannya, setelah itu benar K.H A. Warits Ilyas di depannya.
“Kebetulan kamu ada disini nak, ini kitab kamu
baca!”
ia menyodorkan kitab kepada Muzakki.
“Iya,
Kiai,” jawabnya, Kiai kemudian
pergi, “Sampean mau kemana kiai? Kiai..Kiai..” teriakku.
Muzakki
terbangun, ternyata itu hanya mimpi belaka kitab di pegangnya tidak ada. tapi
ia yakin betul itu kiai yang dicintainya “Subhanallah” serunya. ia tidak
mengerti maksud mimpinya. Kemudian ia pun pergi ke kamar mandi mengambil wudhu’
untuk shalat tahajjud, di atas sajadah ia pun berzikir seraya menunggu Subuh,
meminta kemudahan kepada Allah Swt. Semoga mimpi itu menjadi tanda kebaikan
untuk masa depannya.
Tepat
hari esoknya setelah bermimpi, selepas turun dari mesjid di penghujung Subuh salah
satu pengurus memanggilnya bahwa Kiai Zubairi Marzuki membutuhkannya di dhalem
ia terkejut karena selama mondok tidak pernah di panggil oleh kiai ke
dhalemnya. dengan getir yang memburu, Muzakki melangkah menuju kediamannya Kiai
Zubairi Marzuki di luar halaman hatinya pun berdebar-debar.
“Assalamualaikum”
dari halaman rumah Muzakki mengucapkan salam
“Waalaikum salam” jawab Kiai Zubairi Marzuki dari beranda
rumahnya, ia bangkit dari tempat duduk “Silakan masuk.” imbuhnya,
seraya mempersilahkan Muzakki duduk.
“Anda saudara muzakki?” tiba-tiba beliau memulai
percakapan
“Iya, Kiai” jawabku spontan
“Begini, kebetulan Madrasah
Diniyah
Baramij At-Tarbiyah Wata’lim tidak ada yang
mau mengajar kitab Irsyadul
Ibad.
Sebab gurunya telah berhenti, saya minta
pada saudara untuk menjadi pengampunya.” perintah Kiai Zubairi Marzuki tiba-tiba.
“Bukannya saya menolaknya kiai.
bukankah masih banyak yang lebih tahu dari pada saya?” jawabnya spontan.
“Sudah terima saja, saya percaya
pada saudara.”
“Iya. Kiai.” jawabku seraya
menundukkan badan dan kepala.
“Nanti pengurus akan segera memberi
tahu
saudara, paling lambat dalam satu minggu ini. Saudara akan
menirima jadwalnya”
“Kalau begitu saya mohon diri, Kiai” ucapku. seraya
mencium tangan Kiai Zubairi
Marzuki.
“Iya, silakan. muthala’ah kitabnya.” pesannya
sebelum ia pergi.
Ini sungguh memalukan baginya, padahal sudah tahu ia tidak bisa baca kitab
waktu Kiai
sendiri menyuruh membaca kitab di dalam kelas. hatinya sedikit
kesal sepanjang perjalanan menuju pondoknya
Demi ketundukan terhadap perintahnya seusai shalat Isya’. Ia mengulang kitab
yang pernah ia
pelajari sewaktu
dikelasnya. lamat-lamat
terus dibaca sejauh pengetahuan Muzakki apa bila tidak tahu, ia mencari
dalam kamus Al-Munawwir, kurang lebih satu jam ia duduk menyendiri dalam
kamarnya. kemudian ada
yamg berubah dalam hatinya seakan ada cahaya penerang seperti bayangan mimpi di waktu
malam, cahaya terang benderang seperti saat bertemu dengan KH. Warits Ilyas beberapa
menit pun menghilang. Muzakki kembali membaca kitabnya sejauh yang ia tahu. Tiada sangka
makna kitab Turats yang tidak diketahuinya itu, ia tahu begitu saja serupa ada ilham hinggap dalam
hatinya. ia terus tidak percaya. Apakah ini yang di sebut ilmu ladunni menurut
Kiai saat aku belajar kitab padanya? Apakah aku sedang bermimpi?. Sampai
ia mencoba berjalan dan
berkaca-kaca.
“tidak! aku tidak bermimpi.” Katanya. Sejenak ia berpikir, mungkinkah
ini barokah dari shalat berjamaah?.
Annuqayah 08
April 2017 M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar